Candi Sukuh, Karanganyar

Ngomongin soal candi di Jawa Tengah, biasanya kita otomatis menyebut Borobudur. Atau Prambanan, Ratu Boko, Mendut. Padahal masih banyak lagi candi lain yang ada di Jawa Tengah, misalnya Gedong Songo di Kab. Semarang, Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, dan tidak lupa 3 candi yang ada di Kabupaten Karanganyar yaitu; Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Kethek.

Pergi main ke Karanganyar sih udah jadi semacam “ritual” keluarga saya kalau lagi liburan ke Klaten. Tapi ya mainnya ke tempat yang standar aja: Grojogan Sewu. Ke air terjun, naik kuda keliling pasar, mama kalap beli sayur mayur, trus udah… pulang. Entah berapa kali ke Karanganyar, ya udah gitu aja acaranya.

Nah, pas liburan ke Solo kemarin, saya sungguh berlagak jadi turis deh! Saya ajak Bulan untuk nyobain ke trio candi yang ada di Karanganyar itu. Kadang jadi ‘turis’ itu perlu lho, karena dengan jadi ‘turis’ kita punya curiosity untuk nyari tahu apa sih yang belum kita lihat di kota itu yang kadang ga terlihat ketika kita ‘being a local’. Buktinya, berapa tahun tinggal di Klaten, sering main ke Tawangmangu, saya baru tahu ada yang namanya Candi Cetho, dkk tahun 2002 pas kuliah di Bandung, dan baru bisa lihat bentuk benerannya selusin tahun kemudian. Late-bloomers kalo kata Bulan, hihihi…

Cara paling gampang menuju candi-candi ini adalah: pergi rame-rame dan sewa mobil yang dilengkapi driver profesional yang udah biasa ke sana, karena jalan menuju ke sana aduhai bener tanjakannya. Kalau cuma pergi sendiri atau berdua, gimana? Bisa sewa motor, tapi tetep ya hati-hati naik motornya.

Kalau mau naik angkot ke Candi Sukuh? Ummm.. saya belum pernah, hehehe.. dari hasil baca-baca blog orang sih kayanya lumayan gampang juga kalau mau naik angkot. Dari Solo, naiklah minibus jurusan Tawangmangu. Biar cepet naiknya dari depan Kampus UNS. Bilang ke kernet minibus, turun di terminal Karangpandan, jangan sampai kebablasan ke Tawangmangu. Dari Karangpandan, lanjutkan perjalanan naik angkutan pedesaan, jurusan Nglorog. Nah, dari pertigaan Nglorog ini, tinggal jalan kaki sejauh kurang lebih 1 km (dengan jalanan super nanjak), atau naik ojek. Selanjutnya dari Candi Sukuh mau ke Candi Cetho dan Candi Kethek, bisa naik ojek.

Waktu main ke trio candi ini, urutan yang saya lalui adalah; Candi Cetho (dan Puri Saraswati dan Candi Kethek), Candi Sukuh, Grojogan Jumog. Karena kami memakai mobil sewaan (plus driver yang sungguh mumpuni), maka kami tinggal duduk manis saja, tinggal nyiapin kaki untuk banyak naik tangga dan trekking-trekking lucu.

Candi Cetho, Puri Saraswati, dan Candi Kethek

#NatarajasanaDimanaSaja Edisi Candi Kethek

#NatarajasanaDimanaSaja Edisi Candi Kethek

Selepas dari parkiran mobil dan membeli tiket masuk, kami langsung dihadapkan pada tanjakan terjal yang disambung dengan tangga curam menuju Candi Cetho. Jangan keburu seneng dulu setelah melewati gapura depan, ternyata kita baru bertemu dengan halaman saja. Jalan sekitar 500m meter ke depan, barulah kita akan bertemu dengan bangunan Candi Cetho.

Dari Wikipedia Candi Cetho adalah candi Hindu yang didirikan sekitar abad ke-15, pada akhir masa kerajaan Majapahit. Awalnya terdiri dari 14 teras atau undakan, namun sekarang hanya tersisa 9 teras saja. Hingga saat ini candi ini masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu. Di sekitar Candi Cetho banyak terdapat homestay yang biasanya digunakan para peziarah, yang umumnya datang dari Bali, saat beribadah di Candi Cetho.

Pada masa pemerintahan Bupati Karanganyar, Ibu Rina Iriani, dibangunanlah sebuah puri tempat peribadatan umat Hindu, yaitu Puri Saraswati. Letaknya masih di area Candi Cetho. Puri ini merupakan sumbangan dari Kabupaten Gianyar. Sebuah patung Dewi Saraswati yang melambangkan kebijaksaan, sebuah Meru (salah satu bagian dari pura) dan sebuah sumur dari berasal dari mata air alami, dibangun ditengah rimbunnya hutan.

Tak jauh Lumayan jauh –oke, mari kita bikin konsensus jauh dekat itu seperti apa- Kurang lebih 1.5 km berjalan melalui pinggir hutan dari Puri Saraswati, ada Candi Kethek. Candi ini jauh lebih kecil daripada Candi Cetho, dan dari bentuknya mengingatkan saya akan situs megalitikum Gunung Padang yang ada di Kabupaten Cianjur. Yang konon katanya, mirip juga dengan piramida suku Inca di Peru. Konon, wong saya juga cuma baca di majalah, belum pernah sampai ke Peru. :p

Candi Sukuh

Pelataran Candi Sukuh

Pelataran Candi Sukuh

Kurang lebih 20 menit naik mobil dari Candi Cetho, kami sampai di Candi Sukuh. Jika Candi Cetho dan Candi Kethek terletak di lereng bukit, maka Candi Sukuh sedikit lebih ramah dengan kaki-kaki jompo kami. Terletak di tengah perkampungan, membuat akses ke Candi Sukuh jauh lebih gampang. Tapi konsekuensinya juga jauh lebih ramai pengunjung.

Rombongan Pemusik di Candi Sukuh

Rombongan Pemusik di Candi Sukuh

Siang itu ternyata sedang ada sebuah ritual musik di atas Candi Sukuh, kami kurang tahu juga dari mana. Sekelompok pemusik etnik memainkan alat-alat musiknya di atas candi, membuat hampir seluruh pengunjung ramai-ramai naik ke puncak candi. Saya dan teman-teman pas dateng cuma bengong sambil mikir “cailaaah, rame amat! Ini sih mau ngambil foto candi, yang kefoto punggung orang semua….”

Pengunjung Candi Sukuh

Pengunjung Candi Sukuh

Sekitar 30 menit menunggu, akhirnya ritual musik itu selesai juga. Namun masih banyak pengunjung yang enggan turun dari puncak candi, bikin foto jadi ‘bochooooorr… bochoorrr’. Beruntung ada Pak Satpam baik hati yang mau dengan sopan meminta turun para pengunjung itu…

“ayo, sampun dho mandap. Gentenan kalih sing ajeng moto, nggiih…”

Patung Garuda di Candi Sukuh

Patung Garuda di Candi Sukuh

Sama halnya dengan Candi Cetho yang banyak terdapat lingga dan yoni, relief di Candi Sukuh juga terdapar relief-relief erotis. Selain itu terdapat relief yang menggambarkan kehidupan Sadewa, si bungsu dari Pandawa bersaudara. Juga patung garuda dan kura-kura dari cerita akan pencarian air suci (tirta amerta)

Grojogan Jumog

Aliran Sungai dari Grojogan Jumog

Aliran Sungai dari Grojogan Jumog

Grojogan dalam bahasa Jawa artinya air terjun. Sebagai daerah berada di lereng gunung, di Kab. Karanganyar memang banyak terdapat grojogan, salah satu yang paling terkenal tentu saja adalah Grojogan Sewu yang ada di Tawangmangu. Kali ini, kami pergi ke air terjun yang masih kurang terkenal jika dibandingkan Grojogan Sewu, yaitu Grojogan Jumog.

Errr… alasan sebenarnya karena air terjun ini lebih dekat Candi Sukuh yang barusan kami datangi, sih.. hihihi…

Hampir sama dengan mendatangi air terjun lain di Indonesia, mau lihat Grojogan Jumog juga harus siap trekking naik turun bukit. Untungnya, (iya, saya orang jawa yang dalam keadaan apapun sering banget bilang “untungnyaaaa…”) naik turun bukitnya sudah disediakan anak tangga. Ga perlu lagi pegangan sama akar pohon karena takut nginjak batu yang licin.

Segarnya Grojogan Jumog

Segarnya Grojogan Jumog

Pengelola taman wisata Grojogan Jumog ini menurut saya punya selera humor yang lumayan bagus. Mereka menempatkan ‘spanduk peringatan’ di depan tangga turun menuju air terjun; Dengan membeli tiket masuk, berarti Anda siap menuruni sekian anak tangga, dan tak lupa spanduk ucapan selamat di sebaliknya; Selamat! Anda berhasil menuruni dan menaiki sekian anak tangga!

Air terjunnya sendiri menurut saya tidak jauh berbeda dengan Grojogan Sewu, sedikit lebih seru karena ada warung-warung penjual makanan yang memungkinkan kita makan di pinggir sungai berair jernih. Enak buat istirahat setelah seharian naik turun bukit dan candi. Kalau lagi main ke Solo dan sudah kehabisan ide mau kemana, bolehlah melipir sedikit ke Karanganyar untuk menikmati Trio Candi Kece dan Grojogan Jumog.

Share: