Saya dan Bulan di depan Bus Werkudara
Saya dan Bulan di depan Bus Werkudara

Saya dan Bulan di depan Bus Werkudara

Bus Wisata Werkudara adalah salah satu warisan dari Pak Jokowi ketika menjabat sebagai walikota Solo. Diluncurkan pada tanggal 19 April 2012, bus wisata ini menjadi bus wisata tingkat pertama yang beroperasi di Indonesia. Saat ini bus werkudara beroperasi setiap hari Sabtu dan Minggu. Ada 3 jadwal setiap hari operasinya, pukul 09.00, 12.00 dan 15.00 WIB. Namun, bus hanya akan jalan jika minimal ada 20 penumpang di setiap sesinya.

Meski bus wisata ini sudah lumayan lama beroperasi, dan kampung halaman saya juga ga jauh-jauh amat dari Solo, tapi saya belum pernah naik bus ini. Akhirnya ketika ada rencana jalan-jalan ke Solo, saya niat banget pengen nyobain. Googling cara booking-nya, dapatlah saya tiket untuk 3 orang, dengan jadwal, Sabtu 23 Agustus 2014, jam 15.00 WIB. I was so excited waiting to ride this bus, karena baca-baca di blog orang, kok kayanya asik bener yaa…

Pas hari Sabtu-nya pun, dari pagi saya sudah di-sms oleh pengelola tiket bus, memastikan saya benar ikut tur hari itu. Hingga 15 menit sebelum jam 3, saya ditelepon untuk kembali ditanya jadi ikut tur atau ga. Wah, saya makin excited, dong! Buru-buru saya, Bulan dan Ang naik taksi dari Solo Paragon ke Kantor Dishub di Manahan. Takut terlambat, kami pakai acara sedikit bete ke supir taksi yang nyetirnya kaya putri solo lagi nari, klemar klemer lemah lembut pakai acara ngajak ngobrol tentang kampung batik. Rasanya pengen teriak “shut up and drive!” Gemets!!

Ternyata pas sampai di Kantor Dishub, kami bukan rombongan terakhir yang datang… Hauuuuhh. Mas-nya bikin panik deh! *cubit mas pengelola tiket* Foto-foto sebentar di depan bis, lalu kami naik dan memilih duduk di deck atas. Tepat jam 3 sore, bus bergerak meninggalkan Kantor Dishub. Yeay!

Tiga Lembar Tiket Bus Werkudara

Tiga Lembar Tiket Bus Werkudara




Nah, dari awal naik bus, saya sedikit merasa aneh dengan bus yang masang lagu dangdut di monitor TV yang ada di dek atas. Tapi ya kami pikir itu cuma untuk hiburan penumpang sampai bus jalan. Ternyata, sepanjang perjalanan bus, itu lagu dangdut ga berhenti lho… Jadi sayang banget, suara pemandu bus harus saingan sama lagu dangdut di dek atas.

Soal pemandu bus wisata pun, saya juga agak kecewa. Jadi si mbak pemandu hanya ngomong sedikit-sedikit banget, misalnya “saat ini kita berada di jalan Jend. Sudirman, dan di sebelah kiri adalah bangunan Bank Indonesia”. Udah, trus diem. Trus disambung lagi, “…disebelah kiri adalah kantor walikota surakarta”. Trus diem lagi.

Gedung BI Surakarta dari Atas Bus Werkudara

Gedung BI Surakarta dari Atas Bus Werkudara

Sayang bangeetttt… padahal banyak hal yang bisa diceritain kan dari suatu perjalanan keliling kota. Misalnya, kapan gedung Bank Indonesia tadi didirikan, trus sejak kapan gedung BI jadi 2 gedung dengan jembatan penghubung yang menghubungkan kedua bangunan tersebut. Atau misalnya, tentang siapa arsitek yang merancang gedung bergaya neoklasik tersebut. Atau cerita dalam masa revolusi, gedung BI ini pernah dipakai para pemuda sebagai tempat penyekapan Perdana Mentri Syahrir.

See? Saya bukan ahli sejarah, cuma bermodal google aja bisa nemu beberapa cerita tentang Gedung Bank Indonesia di Surakarta. I mean, come on.. Dishub Solo, you can do better than that on managing the first double decker bus in Indonesia!

Perpaduan kecapean naik kereta dari Jakarta ke Solo, lanjut dengan jalan-jalan keliling Solo naik becak sebelumnya, dan angin sepoi-sepoi dari dinding bus yang setengah terbuka, akhirnya malah bikin saya dan Bulan ketiduran di bus. Baru bangun pas bus berhenti sebentar di Benteng Vastenberg.

Werkudara Bus, You Can Do Better, Big Boy!

Werkudara Bus, You Can Do Better, Big Boy!

Waktu di Surabaya, saya pernah keliling naik bus wisata yang dikelola oleh House of Sampoerna. Entah adil atau tidak jika saya membandingkan Bus Werkudara dengan Bus Surabaya Heritage Track, karena dari beberapa segi pengelolaan berbeda jauh. Suatu saat saya pengen naik Bus Mpok Siti, city-tour bus di Jakarta, yang lagi-lagi muncul ketika di masa pemerintahan Pak Jokowi dan Pak Ahok, sebagai perbandingan dengan bus Werkudara. Atau Bus Bandros di Bandung, sebagai city-tour bus yang sama-sama bayar, mungkin akan lebih apple-to-apple perbandingannya.

Jadi masih perlukah naik bus Werkudara untuk keliling Solo? Silakan Anda putuskan sendiri 

Share: