Dari seri #NatarajasanaDimanaSaja, kali ini di tepi Danau Singkarak
Sisi Timur Danau Singkarak

Sisi Timur Danau Singkarak

“Saya sedikit ngebut ya, Bu?” Pak Adam, pengemudi mobil sewaan kami meminta ijin. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 3 sore, dan kami baru keluar dari Bandara Minangkabau, setelah

mengantarkan salah satu teman kami yang terpaksa pulang duluan ke Jakarta.

“Memangnya berapa lama perjalanan ke Danau Singkarak, Pak?” Kak Miki balik bertanya.

“Satu setengah jam, Pak”




“Ok, ngebut kalau begitu!”

Waduh, jam 4.30 sore baru sampai di Danau Singkarak, dong!, batin saya. Saya udah takut kesorean aja sampai di sana, trus cuma bisa lihat air gelap dengan bayang-bayang pohon di sekitarnya. Yaaah, masa udah jauh-jauh ke Padang, ga bisa lihat Danau Singkarak. *cedih*

Untungnya kekhawatiran saya salah. Pak Adam bener-bener ngebut nyetirnya, dan kurang dari 90 menit kami sudah sampai di danau yang terletak di dua kabupaten tersebut. Sebelum mobil yang kami tumpangi akhirnya parkir di salah satu titik pemberhentian, mulut saya dan Kak Miki tidak berhenti berucap “Woooww….” “Gila, keren banget!”, setiap kali mobil melintasi sebuah kelokan dengan pemandangan sawah hijau terbentang di sebelah kiri jalan, Danau Singkarak di sisi kanan, dan di depan kiri atau kanan saling bergantian rumah dengan atap khas Sumatera Barat.

A Bright Evening

A Bright Evening

Satu hal lagi saya salah, jam 16.30 mungkin sudah terlalu sore untuk mengunjungi suatu obyek wisata di Pulau Jawa. Saya lupa kami sedang berada di Sumatera, sisi barat Indonesia. Tempat terakhir matahari terbenam. Sudah hanpir jam 5 sore, matahari masih bersinar kece untuk foto-foto.

Dari seri #NatarajasanaDimanaSaja, kali ini di tepi Danau Singkarak

Dari seri #NatarajasanaDimanaSaja, kali ini di tepi Danau Singkarak

Di Salah Satu Sisi Danau Singkarak

Di Salah Satu Sisi Danau Singkarak

Danau Singkarak (menurut info dari wikipedia), luasnya sekitar 11.200 hektar. Terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Jarak tempuh dari kota Padang sekitar 70km, 20km dari kota Solok, dan sekitar 36km dari Bukittinggi. Di danau ini, hidup 19 jenis ikan dan katanya salah satunya adalah ikan yang hanya hidup di Danau Singkarak. Ya, ikan bilih. Ikan kecil-kecil seukuran kurang dari jari kelingking, yang biasanya digoreng kering, lalu dijadikan cemilan, atau dimasak dengan bumbu cabai hijau, atau bisa juga dimasak bumbu balado dengan cabai merah.

Membanyangkan makan nasi pulen dengan lauk sambal ikan bilih di tepi danau, dengan angin semilir yang membelai wajah, hmmm.. pasti nikmat sekali! Tak heran jika di sepanjang tepian Danau Singkarak banyak terdapat rumah makan yang langsung menghadap ke danau. Waktu saya posting di Path sedang di Danau Singkarak, salah satu reaksi teman saya adalah komentar “suka banget! Tapi lebih suka makan di rumah makan tepi danau-nya sih…” Sayangnya, siang hari sebelum ke Danau Singkarak, saya baru saja late-lunch dengan seporsi pempek, gado-gado Padang dan es duren. Perut rasanya masih belum sanggup dimasuki makanan lagi. Jadi kami melewatkan nikmatnya makan di tepi danau.

Cantiknya Singkarak

Cantiknya Singkarak

Selepas matahari tenggelam dan setelah puas berfoto dengan berbagai gaya, kami beranjak meninggalkan Danau Singkarak. Keindahan yang kami nikmati sore ini telah mengembalikan kepercayaan kami akan keindahan Sumatera Barat yang sehari sebelumnya telah tercabik oleh Danau Maninjau. Ada apa di Danau Maninjau? Tunggu cerita saya berikutnya yaaa…

Share: