Menuju Rumah Simbah

Menuju Rumah Simbah

Sekian kali mengikuti “prosesi” mudik, saya makin yakin bahwa orang rela bersusah payah demi yang namanya pulang kampung. Sebut saja; membeli tiket pesawat dengan harga bisa 3 hingga 5 kali lipat harga normal, naik motor selama lebih dari 24 jam, bermacet-macet di dalam mobil pribadi maupun bus AKAP, antri keluar dari kapal laut yang kapalnya pun antri sandar di dermaga (antri-ception). Jangan lupa, setiap tahun sekitar 500 jiwa pergi sia-sia akibat mudik. Belum lagi yang harus cidera fisik karena kecelakaan. Semua dilakukan demi bisa berjumpa dengan orangtua dan sanak saudara di kampung.

Kedua orangtua saya asli Klaten, sebuah kota kecil di antara Jogjakarta dan Surakarta. Papa merantau ke Jakarta awal tahun 70an, sementara Mama merantau ke Bandung tahun 1977. Keduanya bertemu di Bandung, dan menikah tahun 1979. Meskipun dari kecil sudah punya kakek-nenek yang tinggal berbeda kota, tradisi mudik saat Lebaran di keluarga saya baru dimulai tahun 2001. Lho? Dari tahun 1980 sampai 2001 ga pernah pulang kampung?

Ya pernah sih, tapi ga pas Lebaran, misalnya pas liburan sekolah, atau Natal pas saudara-saudara Mama ngumpul di Klaten. Ga pernah mudik selama Lebaran ini ada sebabnya; tahun 1981 (saya belum lahir, baru ada kakak saya aja) keluarga saya tinggal di Cirebon. Cirebon – Klaten itu, kalau naik kereta paling lama 8 jam. Mudik Lebaran tahun itu, mama musti memangku kakak yang kala itu usia 1.5 tahun, duduk ngelesot di lantai gerbong KA, selama hampir 12 jam perjalanan. Papa saya? Karena begitu penuhnya gerbang harus rela duduk di dekat sambungan gerbong. Yaaah, namanya juga kelurga muda masih berjuang, punyanya baru motor. Belum punya mobil yang bisa dipakai mudik. Kereta ekonomi menjadi satu-satunya opsi, karena mama ga mau naik bus malam.

Salah satu kualitas yang saya kagumi dari mama, sebagai perempuan beliau sama sekali tidak melankolis. Sangat rasional, cenderung tega sih kadang-kadang, hahaha…

Pengalaman tersiksa mudik dari Cirebon ke Klaten itu, sesampainya di kampung mama langsung bilang ke mertuanya (nenek saya) bahwa ini mudik pertama dan terakhir naik kendaraan umum, selama dia masih punya anak kecil. Mama nggak keberatan pulang nengok orangtua, asalkan tidak saat Lebaran. Masih banyak waktu yang sama baiknya untuk silaturahmi dibandingkan harus menyiksa diri saat Lebaran, menurutnya. Untungnya kakek-nenek saya mau ngerti argumen menantunya. Alhasil, setelah tahun 1981, berturut-turut tahun 1983 saya lahir, 1986 Argo lahir, 1992 Nduk lahir. Jadi lebih dari 12 tahun mama selalu punya anak kecil yang belum bisa diajak dempet-dempetan di kereta. Mau mudik pakai mobil, papa saya baru sanggup beli mobil tua yang ga yakin kuat dibawa menempuh perjalanan lebih dari 400 km. Jadi begitulah, saya ga punya pengalaman serunya mudik Lebaran jaman masih anak-anak.

Justru ketika usia SMP-SMA, saya malah punya pengalaman ‘mudik terbalik’. Terbalik? Iya, saat itu saya sekolah di Klaten, ikut mbah putri dari mama yang beragama Katolik. Jadi biar bisa tetep ngerasain suasana Lebaran, saya ‘pulang kampung’ ke rumah Cikarang. Saat orang-orang dari Jakarta desek-desekan di kereta, saya malah naik kereta yang kosong melompong ke Jakarta. Jangan bayangkan naik kereta jaman dulu kaya jaman sekarang ya… Sekarang walaupun kelas ekonomi, kereta sekaramg sudah bebas asap rokok, ber-AC, dan ga ada pedagang bersliweran di dalam gerbong. Sampai lulus SMP, saya masih ngalamin tuh naik kereta dengan lampu gerbong cuma nyala 1 buah, tiketnya masih berupa potongan karton tebal seukuran kartu domino, dan dalam semalam entah berapa kali dicolek pengamen pas lagi pules tidur. Begitulah akibat yang musti saya tanggung karena bandel beli tiket ekonomi padahal dikasih uangnya untuk beli tiket bisnis. Hihihi..

Tahun 2001, saya dan kakak kuliah di Bandung, orangtua masih tinggal di Cikarang. Sejak tahun itulah ritual mudik yang sebenarnya dimulai. Biasanya, keluarga berangkat dari Cikarang selepas sahur, lalu menjemput saya dan kakak di rumah tante di Cimahi. Roadtrip berlanjut dari Cimahi ke Klaten, via jalur selatan. Dibanding lewat pantura, saya jauh lebih suka lewat jalur selatan, jalanannya lebih adem.

Kala itu, mudik sekeluarga bawa mobil itu paling nyaman. Ga harus ngerasain desek-desekan di kereta, dan di kampung pun kalau mau main ke mana aja ga usah ribet sama transportasi. Sampai tahun 2008, jalur Jogja-Klaten-Solo, meskipun Lebaran ga pernah macet lho! Yaaah paling ramai lancar standar Jakarta. Nah, mungkin seiring dengan naiknya tingkat kesejahteraan orang-orang perantau, makin banyaklah pemudik yang pulang bawa mobil. Jangan tanya gimana bentuknya itu jalan Jogja-Solo saat Lebaran. Kaya tol dalam kota pindah tempat!

Macetnya Jogja-Solo ga membuat saya dan keluarga pantang kemana-mana. Banyak jalan menuju ke tempat wisata. Misalnya dari Klaten mau ke pantai-pantai cantik di Gunung Kidul; Bisa macet-macetan di Prambanan dulu trus belok ke kiri ke arah Piyungan, baru ke Wonosari. Cara lain yang lebih tidak macet, lewat jalur Bayat. Mau yang jauuh lebih ga macet? (serius, ini jalananya mulus banget, jarang dilewatin mobil, tapi tanjakannya mantap. Sebaiknya hanya mobil dengan kondisi prima yang lewat sini) silakan lewat jalur kampung simbah saya: Klaten ke arah Wedi, ambil jalur ke arah Pasar Gempol, ikutin jalan raya terus, nanti tembus-tembus udah di Kota Wonosari. Tinggal sekitar 1 jam sampai ke deretan Pantai Pok Tunggal, Drini, Indrayanti, dll.

Mudik, bisa jadi adalah suatu proses melelahkan yang harus ditempuh para perantau setiap tahun. Banyak jiwa terbuang percuma, tabungan terkuras habis, badan lelah luar biasa. Semuanya demi bisa berkumpul dengan keluarga, bercerita dan tertawa lepas. Ya, saat tertawa lepas bersama sepupu, saya merasa jadi orang melankolis yang mementingkan berkumpul di hari raya bersama keluarga ada benarnya juga.

 Mudik atau tidak, adalah pilihan.

Welcome Home!

Welcome Home!

 

Postingan ini saya tulis untuk ikutan posting bareng Travel Blogger Indonesia bertema #tentangpulang, untuk tulisan lainnya silakan dibaca:

 

Share: