“…tell me, Princess, now when did you last let your heart decide?”

Satu baris lirik dari lagu soundtrack film Aladin yang dinyanyikan teman saya di ruang karaoke itu membuat saya termenung. Bukan, saya bukan merasa dipanggil Princess. Saya merasa tertohok karena di libur super long week end di akhir Mei harusnya saya tengah menikmati perjalanan menjelajahi Pulau Flores, dari Ende hingga Labuan Bajo.

Harusnya…

Tapi saya membatalkan ikut perjalanan itu sama sahabat-sahabat saya di akhir tahun, karena pertimbangan akan suatu rencana yang saya buat bersama seseorang. Lalu ketika rencana yang kami buat itu gagal, apa yang tersisa? Ya hanya saya dan kebingungan “mau ngapain ya liburan super panjang di akhir bulan?” Mau last-minute ikutan trip overland Flores yang dulu saya coret dari rencana, nampaknya ga mungkin. Tiket pesawatnya udah luar biasa mahal. Selain itu juga ga enak sama temen-temen yang udah ngrencanain trip ini, kalau saya berubah-ubah ikut-ga ikut-ikut.




Keesokan harinya saya membulatkan tekat browsing tiket pesawat ke berbagai tujuan. Pokoknya, saya mau jalan-jalan sendirian dan membiarkan hati saya puas memutuskan yang saya mau. Mungkin karena tanggal yang saya pilih adalah tanggal long week end, ya pasti harganya sudah mahal semua. Iseng beralih ke tiket kereta, eh masih tersedia tiket ekonomi tujuan Malang di tanggal yang saya ingin. Beli! Untuk tiket pulangnya sudah ga ada tiket kereta ekonomi, ya sudah ga pa-pa beli tiket kereta eksekutif seharga hampir 10 kali lipat tiket berangkat. Kenapa memilih Malang? Karena saya kangen dengan ketenangan kota itu. Terakhir saya main ke Malang tahun 2001, dan saya jatuh cinta dengan kota markas Ongis Nade alias Singo Edan.

Kota Malang dari Depan Stasiun

Kota Malang dari Depan Stasiun

Tiba di hari keberangkatan ke Malang, saya masih ngantor setengah hari. Dan bisa ditebak, kalau mau ditinggal cuti lama pasti kerjaan adaaaa aja yang muncul cari perhatian. Pagi hari saya berniat berangkat ke Stasiun Senen jam 12 siang, kenyataannya saya baru bisa keluar kantor jam 12.45. Kurang dari satu jam sebelum jadwal keberangkatan kereta api Matarmaja. Saya dan sopir taksi udah was-was “nyampe ga.. nyampe ga… nyampe ga…” Dan seperti déjà vu dengan pengalaman hampir ketinggalan kereta waktu mau ke Dieng gara-gara hujan, siang itu tiba-tiba hujan deres juga pas taksi melintasi Jalan HR Rasuna Said. Great! Kena macet sedikit saja, beneran bisa telat nih. Kalau waktu pergi ke Dieng, ada 3 teman saya yang bisa bikin saya tetap tenang. Kali ini saya sendiri, jadi setiap keputusan mau gimana-gimana di jalan, ya harus saya yang memutuskan.

Jam 13.26, sembilan menit lagi kalau tepat waktu kereta saya akan berangkat. Posisi taksi yang saya tumpangi masih di perempatan Senen, pas di bawah fly over, dan jalanan macet.

“Pak, saya jalan kaki saja dari sini. Takut ga kekejar…” ujar saya sambil mengulurkan ongkos taksi ke Pak Sopir.

“Iya, Mbak.. Silakan. Di cek lagi barangnya jangan sampai ada yang ketinggalan..” jawabnya.

Saya menggendong ransel dan berlari menembus kemacetan perempatan Senen.

Perpaduan antara belum makan dari pagi, takut ketinggalan kereta dan aspal licin oleh lumpur hitam sisa hujan, entah bagaimana beberapa meter sebelum pintu gerbang Stasiun Senen saya jatuh nyusruk. Hari itu saya masih pakai baju stelan kerja, baju terusan selutut, otomatis dengkul dan tulang kering langsung beradu dengan aspal. Perih. Saya bangun dari aspal dan melihat ada sedikit darah di dengkul, kedua tulang kering kotor oleh lumpur hitam dari aspal.

“Duh, di dompet kayanya cuma ada plester. Bersihin lukanya pakai apa ya?”

“Sudah! Dengkul luka ga usah dipikirin. Yang penting naik kereta aja dulu!”

“Tapi belum beli air minum dan cemilan….”

“Ngejar kereta aja duluuu!”

Suara-suara di kepala itu terus bercakap-cakap ketika saya berjalan tertatih menuju pintu masuk utara. Petugas di pintu masuk teriak “Cepetan, mbak!” pas saya tanya “Matarmaja?” buru-buru saya keluarjan tiket dan KTP yang langsung di-stempelnya. Langsung saya naik gerbong terdekat dari pintu masuk, sekilas saya lirik gerbong nomor delapan. Belum sampai menemukan tempat duduk saya di gerbong 5, kereta sudah berjalan pelan.

Rasanya mau nangis, karena rasa perih yang makin menjadi di kaki dan oleh perasaan lega ga jadi ketinggalan kereta.

Sampai di kursi, harusnya saya duduk di dekat lorong, tapi mungkin karena kasihan dengan penampilan saya yang belepotan lumpur hitam tulang keringnya, penumpang di sebelah saya merelakan tempat duduknya yang dekat jendela untuk saya tempati. Pelan-pelan saya bersihkan kaki dan luka pakai tisu basah, dan ternyata setelah lumpur bersih, barulah kelihatan kalau luka di dengkul ini cukup besar dan dalam. Mau diplester, plesternya ga akan nutup semua luka, malah sakit nanti kalau harus dibuka.

Lapar, dengkul perih, ga punya makanan, petugas restorasi kok ya cuma bawa mi instan pakai cup (yang saya ga doyan), dipesenin nasi goreng malah bilangnya belum mateng, saya jadi ngerasa kaya orang paling malang sedunia. Hiks. Ga percaya kalau nasi gorengnya belum mateng, saya maksain jalan ke gerbong restorasi, ternyata nasi gorengnya baru dicetak dan dimasukkan wadah styrofoam. Serasa lihat surga makanan demi melihat barisan nasi goreng mengepul panas.

Seporsi nasi goreng pakai telur mata sapi, segelas es teh manis, dan sebotol air mineral dihargai IDR 28.000. Biarlah mahal, tapi saya dipinjami rivanol, kapas, dan betadin untuk luka yang saya khawatir bakal infeksi karena sebelumnya ga dibersihkan dengan benar.

Pelajaran berharga buat saya lain kali:

1. Siapkan cukup waktu untuk menuju stasiun/bandara/terminal biar ga spanneng sendiri di jalan.

2. Menyiapkan alkohol untuk bersihin luka dan betadin dalam kemasan kecil di dompet obat-obatan itu harus!

3. Bepergianlah dengan perut terisi, biar ga masuk angin, atau terpaksa jajan makanan yang cuma itu saja. Atau bisa juga biar ga jatuh malu-maluin kaya orang keberatan ransel.

4. Jangan lupa bawa cemilan!

Setelah perut kenyang, saya kembali ke tempat duduk dan siap menghadapi petualangan delapan belas jam ke depan menuju kota Malang. Dan tentu saja, petualangan yang lebih seru lagi 4 hari ke depan menyusuri Malang, Batu, Surabaya dan Bromo. Biarkan hati ini bebas memutuskan mau kemana dan ngapain aja.

Chicco, Anjing Milik Seorang Romo di Gereja Kayutangan

Chicco, Anjing Milik Seorang Romo di Gereja Kayutangan

Share: