Wilayah Sukabumi (Kabupaten dan Kota) luasnya kurang lebih 4.176 Km2. Dengan luas segitu besar, ga heran kalau banyak tempat wisata yang ada di Sukabumi. Mulai dari air terjun (curug), hutan, danau (situ), gunung dan pegunungan, hingga rangkaian pantai di pesisir selatan. Tentu ga bakal cukup 2 hari 1 malam untuk mengunjungi semua tempat wisata di Sukabumi.

Dua minggu lalu, teman saya the dynamic duo, Kak Mickey dan Kak Lejid kasak kusuk ngajakin jalan ke tempat yang sejuk. Pas saya diajakin, karena rencananya naik kereta, saya langsung bilang mau. Hingga akhirnya Kak Nyanyu + Eppy dan Bulan ikutan gabung. Berenam kami naik kereta ke Sukabumi, dengan tujuan salah satu bagian dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, yaitu Curug Sawer dan Situ Gunung.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Naik kereta api Pangrango jam 07.55 dari Stasiun Paledang – Bogor, kami tiba di Stasiun Cisaat sebelum jam 10 pagi. Dari Stasiun Cisaat gampang kok kalau mau ke Curug Sawer. Di depan stasiun, biasanya ada beberapa angkot yang ngetem. Kalau mau praktis, sewa aja angkot untuk langsung menuju Curug Sawer. Waktu itu kami berhasil deal IDR 80.000 untuk berenam. Kalau mau ngeteng, naik angkot yang ngetem itu (biasanya nunggu sampai penuh) sampai ke pertigaan Polsek Cisaat, ongkosnya IDR 3.000/orang. Trus di pertigaan Polsek Cisaat, naik angkot warna merah jurusan Terminal Kadudampit. Angkot merah itu mau kok nganter sampai ke pintu gerbang Taman Nasional, ongkosnya IDR 6.000.




Di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango, kita harus membayar HTM sebesar IDR 3.500/orang, parkir motor dan mobil beda lagi, saya lupa merhatiin berapa. Petugas loket akan mengarahkan, untuk menuju air terjun (curug) Sawer kita harus berjalan lurus dari pintu gerbang sejauh 1.7 km, sedangkan kalau mau ke Situ Gunung berjalan ke arah kiri sejauh kurang lebih 1 km. Karena kami masih punya keesokan hari, kami putuskan untuk ke Curug Sawer terlebih dahulu.

Trek Awal Menuju Curug Sawer

Trek Awal Menuju Curug Sawer

Trek Awal Menuju Curug Sawer

Trek Awal Menuju Curug Sawer

Dari pintu gerbang hingga ke kilometer pertama menuju air terjun, rute trekking masih bisa dibilang mudah. Paling hanya nanjak sedikit, trus landai lagi. Begitu melewati kilometer pertama, yasalaamm.. trek-nya mulai bikin dinding-dinding rahim berguguran! Well, saya emang lagi ‘dapet’ sih pas kesana… OK, this is TMI. Puncaknya adalah di hektometer ke 14 sampai hektometer 16. Kami harus merambat turun lewat batu-batu licin. Untungnya di 100 meter terakhir, jalur berubah super landai, dan langsung ketemu sungai super bening dengan air kaya baru keluar dari freezer. Sueegeerrrr!

Ibu dan Anak di Tepi Sungai

Ibu dan Anak di Tepi Sungai

Dan Curug Sawer-nya pun cakep banget! Lingkungan sekitarnya pun bersih, banyak yang jualan susu, kopi, teh, dan ada juga yang jualan bakso pikulan, tapi ga ada 1 lembar pun sampah berserakan. Semua buah sampah di tempatnya. Seneng deh kalau main ke tempat wisata yang kaya gini. Tapi kalau vandalisme sih ya tetep ada, walaupun sedikit.

IMG-20140527-WA0020

Total perjalanan berangkat sampai ke air terjun memakan waktu sekitar 1.5 jam. Setelah puasn bermain air di curug, kami mulai menimbang-nimbang perjalanan pulang. Rasanya dengan perut yang mulai kram, saya ga sanggup kalau harus jalan lagi 1.5jam. Nah, denger-denger ada rute lain yang kita bisa pulang naik ojek. Akhirnya kami sepakat pulangnya naik ojek aja, dengan ongkos IDR 25.000/orang.

Saya awalnya mikir, naik ojeknya ya kaya naik ojek di kampung gitu… lewat pinggir sawah, trus rumah-rumah penduduk. Ups, ternyata salah besar! Jalur ojeknya lewat jalan tanah merah yang licin habis hujan, disebelah kanan langsung jurang, lewat turunan panjang nan curam trus lalu belok nikung macam sirkuit balap. Dan itu harus dilewati selama kurang lebih 10-15 menit, dengan kecepatan ngebut. Sepanjang jalan saya hanya bisa berdoa. Sambil pegangan erat sama tukang ojek yang ganteng. Bulan sempat nge-video-in perjalanan naik ojeknya, nanti ya kalau dibolehin saya share di sini.

Keesokan pagi, tiba giliran untuk mengeksplor Situ Gunung. Waktu terbaik untuk menikmati keindahan telaga ini adalah pas matahari terbit. Berhubung jalannya gelap, kalau mau jalan kaki sebaiknya bawa senter yang besar. Kami memilih untuk naik ojek saja, cukup dengan 5 menit perjalanan kami sudah tiba di tepi danau. Sinar matahari belum muncul dari balik bukit kaki gunung Gede dan Pangrango, tapi langit sudah kelihatan bersemburat biru tua dihiasi bulan sabit dan satu bintang yang sangat terang (umm.. atau itu planet merkurius ya?). Sungguh cantik.

Breaking Dawn At Situgunung

Breaking Dawn At Situgunung

Ini sebagian foto-foto saya di Danau Situgunung.

Situgunung

Situgunung

Suatu saat rasanya pengen baik lagi ke tempat ini, piknik gelar tiker sambil sarapan, atau mungkin sambil latihan yoga sebelumnya. Mau ikut?

Utthita Hasta Padangusthasana [yang agak gagal]

Utthita Hasta Padangusthasana [yang agak gagal]

Natarajasana di tepi Situgunung

Natarajasana di tepi Situgunung

Share: