Jika tak salah hitung, 14 kali sudah saya jalan-jalan ke Kepulauan Seribu. Ya gimana dong, saya cinta mati sama kepulauan yang satu ini. Dengan biaya dibawah 500ribu, saya udah bisa lihat pantai pasir putih, snorkeling sepuasnya, hanya dengan perjalanan kurang dari 4 jam. Angka 14 kali itu ga terlalu sering lah kalau dihitung dari pertama kali ke Kepulauan Seribu dari tahun 2009 yaaa..

Pantai Pasir Perawan

Pantai Pasir Perawan

Trip ke-14 ini, yang saya kunjungi adalah Pulau Pari. Sebenernya udah lama saya pengen ke pulau yang satu ini. Apalagi setahun belakangan ini pulau yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan kapal kayu dari dermaga Muara Angke ini lagi ngehits berat. Tapi ada aja deh yang bikin gagal pergi kesana, termasuk cerita batal berangkat 8 jam sebelum pergi bersama salah satu trip organizer yang gitu banget itu dehhh…

Hingga akhirnya kakak saya riwiiill terus ngajakin pergi ke sana. Pengen ngenalin anak batita-nya ke pantai dan laut, katanya. Dan kakak saya ini kalau ngajak sesuatu belum diturutin, pasti bakal nagih terus. Berhubung saya pun lagi suntuk sama kerjaan kantor, ya okelah mari kita let’s go. Googling sana-sini, dapatlah beberapa nomer hp pemilik penginapan. Dari beberapa nomer yang saya hubungi, rata-rata memasang harga IDR 600.000 untuk homestay satu malam, kapasitas rumah bisa untuk 10-13 orang. Hanya 1 orang yang mau menurunkan tarifnya jadi IDR 500.000, Pak Udin namanya. Jadilah saya deal dengan beliau. Rencana awalnya ya hanya mau booking homestay aja, nanti gimana di sananya, ya lihat nanti. Toh ini hanya trip santai bawa batita ke pantai.

Pantai Pasir Perawan

Pantai Pasir Perawan




Ternyata Pak Udin sudah menyiapkan semuanya. Homestay, makan 3x, sewa sepeda, termsuk nge-guide-in ngajak snorkeling. Kami pikir-pikir ya sudahlah, harga yang ditawarkan pun tidak jauh dengan kalau kami mengurus semuanya sendiri, jadi kami ambil paketan dari Pak Udin. Kecuali snorkeling, karena rasanya repot bawa Diana kecil snorkeling. Padahal tantenya ini udah siap bawa Karen, peralatan snorkeling andalannya.

Yang saya suka dari Pulau Pari (dbanding pulau berpenduduk lainnya di Kep. Seribu, misalnya: Pramuka, Panggang, Kelapa dan Harapan) adalah di pulau ini masih banyak pepohonan dan rumah penduduknya belum terlalu padat. Untuk rumah penduduk, suatu saat mungkin akan jadi padat, tapi ada sesuatu yang berbeda dari perilaku orang Pulau Pari dalam membangun rumah. Mereka tidak menghabiskan lahan yang mereka miliki untuk semuanya dihabiskan jadi bangunan. Disisakan 1 meter di samping kanan kiri rumah, juga halaman tidak dihabiskan disemen, untuk jadi taman.

Di homestay tempat saya menginap, nongkrong di bawah pohon sukun di tepi pantai aja rasanya adem.

Pantai Pasir Perawan

Pantai Pasir Perawan

Untuk sebuah trip dadakan tanpa persiapan yang ribet, ini trip nyenengin banget!

@parah1ta on a trip with her niece, Diana. A loveable 22 month creature, whom cheerfully endured almost two hours ship-trip. I am a proud aunty.

Share: