Berapa banyak dari kita yang terlahir di suatu kota -atau bisa juga, provinsi- tapi tidak mengenal tempat wisata yang ada di daerahnya sendiri? Bahkan mungkin sudah lebih dulu mengunjungi suatu tujuan wisata di luar negeri, tapi tidak terlalu mengenal kampung halaman?

Saya salah satunya.

Lahir, menghabiskan masa remaja di Klaten, Jawa Tengah. Kalau saya ditanya apa daerah tujuan wisata yang ada di Jawa Tengah, paling banter saya hanya bisa menyebutkan Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Eh, Candi Prambanan kayanya sih masuk wilayah DIY ya? Atau gimana? *malah bingung sendiri* Atau kalau mau pilihan lainnya ya Grojogan Sewu di Karanganyar. Padahal masih buanyaaak yang lainnya. Kaya Kepulauan Karimunjawa, atau juga yang satu ini… Dataran Tinggi Dieng.

Gardu Pandang Tieng

Gardu Pandang Tieng

Dataran Tinggi Dieng terletak di perbatasan antara Wonosobo dan Banjarnegara. Daerah yang terletak di ketinggian antara 2200 hingga 2500an mdpl ini tentunya berhawa sejuk. Di bulan-bulan tertentu musim kemarau, konon suhu di dini hari di sana bisa mencapai 0O Celcius. Cukup dingin untuk membekukan air embun, hingga masyarakat menyebutnya dengan musim bun upas (embun beracun), embun yang bisa merusak tanaman.




Sekian tahun tinggal di Klaten, yang mungkin hanya sejauh 4 hingga 5 jam perjalanan ke Wonosobo, saya malah belum penah ke Dieng. Baru setelah tinggal di Jakarta, malah mau jauh-jauh menempuh hampir 10 jam untuk nyobain rafting di Anak Kali Serayu, dan lanjut naik ke dataran tinggi Dieng. Waktu itu saya pergi ikutan sama Picnicholic, total ber-15 kami naik minibus dari Jakarta.

Kesan pertama menginjakkan kaki di Dieng, wheeeww.. dingin banget ya! Waktu itu bulan Juni 2011, sudah masuk musim kemarau. Dan ya, jam 8 malam saat kami membuka pintu penginapan untuk jalan-jalan keluar, rasanya justru kaya masuk ke kulkas. Yang menjadi masalah utama buat saya menginap di Dieng adalah ketika harus pipis. Saya ini cah wedhok jowo yang kalo habis pipis harus bebersih pake air. Cuma pake tisu basah dan tisu kering rasanya kok tetep ada yang kurang. Alhasil, beberapa kali dalam malam itu, saya mengumpat-umpat sedikit setiap pipis.

Ummmm.. too much info ya? Hihi, maap.

Bersama 14 orang teman baru, saya menikmati pesona Dieng.

Candi Arjuna yang sore itu terasa begitu mistis, karena di slah satu candinya (yang berbentuk mirip kubus, bukan yang menjulang tinggi) di dalamnya ada beberapa orang yang sedang melakukan ritual hingga trance.

Hingga trekking naik ke Gunung (Bukit?) Sikunir yang meskipun singkat, namun sungguh melelahkan. Untungnya kelelahan menaklukkan tanjakan-tanjakan batu yang hampir 60O di Sikunir, terbayarkan dengan pemandangan sunrise dari balik Gunung Sindoro dan Sumbing yang sungguh luar biasa. Ah, saya yang bukan anak gunung jadi tahu rasanya apa yang dicari dan dirasakan para pendaki-pendaki dengan ransel segede kulkas itu. Well, dalam perbandingan rasa yang tidak ada apa-apanya, mungkin…

Turun dari Sikunir, hari sudah terang. Kami suguhi pemandangan Telaga Cebong yang imut-imut manis. Tadi sewaktu turun dari mobil di parkiran, telaga ini belum terlihat. Saat terang, ia bisa jadi background foto yang cantik sekali.

Melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna kami kembali menyaksikan warna lain Dieng. Telaga-nya saat itu berwarna hijau tosca. Di saat-saat tertentu dan angle tertentu pula, kamera bisa menangkap gradasi warna hijaunya dengan baik. Saya, cukup menikmatinya dengan lensa terbaik ciptaan Tuhan, mata. Tak lupa setelahnya kami mampir di Musium Kaliasa, nonton film tentang asal-usul dataran tinggi Dieng.

Melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang, sebuah kawah sulfur yang dinamai Sikidang karena kawah ini perilakunya mirip hewan kidang (kijang). Pusat kawahnya sering berpindah-pindah titik, melompat-lompat seperti kijang di padang rumput.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

Seperti halnya perkenalan dengan ke empat belas teman ngetrip saya, perkenalan dengan Dieng ini membuat saya jatuh hati, dan ingin kembali lagi ke sana suatu saat nanti.

@parah1ta ~ untuk trip bersama Nahara, Yoga, Kiki, Wied, Stevie, Dhanu, Tyo, Tika, Iin, Endah, Destia, Ayah, Ibu, dan Mimin @picnicholic Atiek, Juni 2011.

Share: