Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting

Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting

Berpetualang menelusuri sungai Sekonyer di Taman Nasional Tanjung Puting merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. Berada di atas kapal kayu, mengarungi sungai yang mengalir tenang membelah hutan hujan tropis Kalimantan, sambil menyaksikan aneka jenis primata bergelantungan di pohon. Sesekali berhenti di kamp konservasi penyelamatan orangutan dan menyaksikan para ranger memberi makan orangutan. Namun terbatasnya akses terhadap listrik, air bersih, dan sinyal hp yang sangat terbatas bisa membuat kita terkaget-kaget. Berdasarkan pengalaman pergi ke sana selama 4 hari 3 malam, saya memberikan 6 tips yang bisa dijadikan sedikit gambaran bagi kamu yang ingin melihat primata “saudara dekat” umat manusia itu di habitat aslinya.

1. Patuhi Peraturan

Pengelola Taman Nasional Tanjung Puting menetapkan beberapa aturan dasar yang harus dipatuhi pengunjung, demi keselamatan bersama. Peraturan tersebut antara lain:

– Dilarang mengeluarkan suara dengan keras selama berada di wilayah TNTP

– Dilarang menyentuh, memegang orangutan.

– Dilarang makan/minum selama menyaksikan acara feeding.

– Dilarang berdiri diantara orangutan jantan dan betina

– Dilarang membuang sampah tidak pada tempatnya.

2. Pakaian

Bawa: kaos berbahan ringan yang menyerap keringat (dry-fit), celana cargo/celana panjang bukan jeans, handuk kecil, topi/payung, jas hujan, sepatu hiking atau sepatu keds yang nyaman.

Udara di dalam hutan hujan tropis Kalimantan bisa sangat lembab, akibatnya kita akan sangat berkeringat saat keluar masuk hutan untuk melihat orangutan dikasih makan. Kaos berbahan dry-fit akan sangat nyaman dikenakan, sementara celana cargo dan sepatu akan melindungi kita dari gigitan hewan atau goresan tanaman yang bisa bikin gatal-gatal. Kalau kita memiliki kulit yang mudah terluka karena gigitan serangga, pertimbangkan untuk mengenakan jaket tipis berbahan dry-fit juga, atau selalu pakai losion anti nyamuk.

Topi atau payung sangat berguna melindungi kepala saat panas atau malah pas gerimis kecil. Kalau hujannya deras, mending pakai jas hujan (yang model coat, paling pas), agar tangan masih bebas bergerak, just in case musti pegangan pohon karena licin misalnya.

Pakai sendal gunung masih bisa ditolerir, selama tidak mengunjungi TNTP di musim hujan. Sendal gunung tidak bisa melindungi kaki dari gigitan lintah. Sebaiknya tidak menggunakan sendal gunung untuk trekking di malam hari, karena sangat rawan kena gigitan tarantula jika tidak hati-hati.

3. Gadget

Di dalam TNTP begitu melewati Muara Kumai sinyal ponsel makin melemah, dan akan semakin hilang saat kita makin dalam menelusuri Sungai Seikonyer. Bagi para gadget-freak dan sosialita socmed, mungkin akan sedikit mengalami culture shock menghadapi kenyataan ini. Haduuuhh, udah jauh-jauh sampai Tanjung Puting, masa ga bisa pamer di twitter & path siikk…

Saran pertama saya: please enjoy the moment. Kita memang jauh-jauh datang karena ingin menikmati Tanjung Puting kan? Bukan hanya sekedar untuk nunjukkin “Eh, gw lagi di Tanjung Puting nih!”

Saran kedua: bawalah feature-phone  (bukan HP yang canggih-canggih macam iphone, samsung galaxy this and that, htc, dll). Kenapa? Karena feature-phone terbukti lebih canggih menangkap sinyal untuk sekedar sms atau telp (di titik-titik tertentu), sehingga akan lebih reliable dalam keadaan darurat. Jika harus memberi kabar pada keluarga di rumah, di Tanjung Harapan dan di Pondok Tanggui ada penjaga camp yang memiliki alat bernama “anten” (yang saya yakin maksudnya adalah antenna). Bisa dipinjam untuk semakin menguatkan sinyal GSM.

Keukeuh harus dapet 3G?

Oh, ada menara pandang 4 tingkat di Pondok Tanggui yang bisa digunakan buat nyari sinyal. Tingginya? Mungkin lebih dari 20 meter di atas tanah.

Ya kali, segitu pentingnya bales whatsapp kan? *nyengir*

Listrik di kelotok biasanya tersedia untuk sekedar nge-charge baterai kamera, HP atau music player, namun ABK hanya menyalakannya di waktu-waktu tertentu. Jadi sebisa mungkin bawa cadangan power-bank dan baterai kamera cadangan. Pas ABK nyalain diesel-nya, charge semua gadget.

4. Attitude

Berhubung di TNTP ga ada sinyal, maka interpersonal skill antar temen sekelotok harus kembali di asah dong ya… Yang udah lama ga ngobrol karena kesibukan, atau yang tiap hari ketemu tapi selalu dihalangi oleh monitor laptop atau iphone, mari silakan ngobrol dengan akrab.

Bawa permainan yang bisa digunakan untuk membunuh waktu. Atau justru malah bengong bareng-bareng di geladak sambil ngeliatin bekantan. Ga setiap hari kan bisa liat bekantan ngengkes di atas pohon?

Saat berada di dalam hutan, selalu ingat bahwa kita adalah tamu di tempat itu. Please keep silent, respect the orangutans (and other wildlife beings). Jangan buang sampah sembarangan, APALAGI PUNTUNG ROKOK YANG MASIH NYALA ATAUPUN MATI. *capslock jebol*

Kenapa? Karena tanah hutan TNTP sebagian besar adalah tanah gambut (rawa), sedikit saja ada bara api yang dibuang, bisa bikin ratusan hektar kebakaran lahan. You don’t wanna do that, don’t you?

5. Makanan & Minuman

Paket kelotok biasanya sudah termasuk dengan makan 3x sehari dan snack setiap habis trekking. Dan hidangan yang disajikan pun cukup nikmatlah. Menu sarapan kalau ga roti bakar, pancake, mie goreng. Makan siang dan malam dengan nasi dan lauk pauk, sayur. Biasanya lauknya ikan sungai (mas, bawal, mujair), ayam, atau telur. Tahu tempe agak jarang. Guide sudah biasa menyiapkan menu buat orang Indonesia, bule, maupun wisatawan Asia (Jepang, Korea). Jadi kalau punya spesial rekues, bisa disampaikan langsung sebelum berangkat. Karena kalo kelotok udah jalan, ga akan bisa balik lagi ke pasar.

Kalau bisa, jauh-jauh hari sebelum berangkat, minta guide untuk menyiapkan air mineral galon saja untuk di kelotok. Jangan lupa bawa tumbler sendiri, jadi ga banyak bikin sampah botol plastik. Musti jauh-jauh hari diingetin karena supply air mineral galon agak jarang di Kumai. Saya sedikit terlambat rekues air galon, dan akibatnya lumayan sedih juga tiap hari musti ngeremesin 5 hingga 6 botol aqua 600 ml.

Jus buah dalam kemasan disediakan setiap sarapan, softdrink tiap habis trekking. Teh, gula, kopi air panas selalu siap. Kalau kita termasuk pecandu minuman jenis lain (atau merk tertentu) sebaiknya bawa sendiri supply-nya dari rumah.

6. Obat-obatan

Bawa: losion penghilang gatal, minyak kayu putih, betadine, hansaplast, tisu basah (bawa dalam jumlah banyak, because you’ll really-really need them, apalagi cewe-cewe buat ke toilet), obat diare.

Minta ABK untuk TIDAK mencuci ikan/sayuran/buah yang akan dimasak dengan air sungai, yang dikhawatirkan sudah tercemar air raksa dari tambang emas. Kelotok sih biasanya membawa supply air bersih dalam jumlah tertentu, tapi kadang ga cukup dan akhirnya ABK nyuci sayuran di sungai. Memang akan dibilas pakai air mineral (sedikit), but still…. Mending bayar sedikit lebih mahal untuk supply air mineral daripada kenapa-kenapa.

7. Oleh-oleh / Souvenir

Di Kampung Tanjung Harapan ada koperasi desa yang menjual souvenir bagi wisatawan, dari kaos, gelang, patung dan ukiran produksi anak-anak sekolah setempat, gantungan kunci, sampai postcard. Harganya memang sedikit lebih mahal jika dibanding di kota Pangkalan Bun. Tapi kalau memang berniat memberikan kontribusi bagi masyarakat yang tinggal di TNTP, silakan berbelanja di koperasi ini.

Di toko oleh-oleh di kota Pangkalan Bun, buah tangan yang bisa dibeli lebih bermacam. Ada pasak bumi asli (bukan berbentuk kapsul seperti yang dijual suatu merk jamu kenamaan), tapi masih berbentuk semacam cangkir dari kayu yang tinggal diisi air panas. Pilihan kaos dan kain khas Kalimantan Barat juga lebih banyak, hingga batu-batuan yang biasa dibuat perhiasan. Kalau untuk oleh-oleh makanan lebih terbatas. Paling sejenis kerupuk amplang dan kuku macan.

Share: