Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, dapat dicapai dari melalui ibukota kabupaten Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun. Dari Jakarta, ada Kalstar dan Trigana yang melayani penerbangan langsung ke Pangkalan Bun, lama perjalanannya kurang lebih 1 jam 10 menit. Dari Bandara Iskandar, untuk mencapai taman nasional yang menjadi rumah orangutan ini, terlebih dahulu kita harus menuju pelabuhan Kumai. Naik taksi dari bandara ke Kumai cukup IDR 70ribu saja, bisa sharing bertiga atau berempat.

TNTP bisa dikunjungi sepanjang tahun. Peak-season biasanya di bulan Juli, Agustus, September. Saya main kesana di bulan November, ga terlalu crowded, tapi cuaca sedang lembab banget. Gerah. Kalau musim hujan (Desember – Februari) konon akan banyak lintah. Sementara di puncak musim kemarau, air Sungai Seikonyer bisa surut sampai tinggal 30cm, dan kelotok tidak bisa lewat.

Nah, untuk masuk ke Taman Nasional Tanjung Putting, mau ga mau kita harus sewa kelotok (perahu kayu bermesin, bisa untuk menginap) atau speed boat kecil kalau cuma ingin one day trip saja. Harga sewa kelotok tergantung kapasitas dan jumlah hari kita sewanya. Waktu ke sana bulan November 2013 lalu, sewa kelotok kami IDR 11 juta, untuk berlima selama 4 hari 3 malam, jadi setiap orangnya patungan IDR 2.250.000. Harga segitu itu udah all in, artinya termasuk makan, air minum (aqua botol bebas ambil), softdrink setiap kali habis aktifitas trekking, snack dan jus buah setiap pagi. Harga itu masih termasuk murah sih, dibandingin harga yang mereka kasih untuk bule-bule. Kalau perginya berbanyakan, bisa dapat yang lebih murah lagi. Bang Ennog, guide sekaligus pemimpin kelotok kami menawarkan harga IDR 17.5 juta untuk bersepuluh (4D3N), tentunya dengan menggunakan kelotok yang lebih besar dari kelotok kami. Mau pergi berbanyakan atau dengan kelompok kecil itu tergantung preferensi masing-masing sih…

Luas TNTP lebih dari 400.000 hektar, meskipun katanya sekarang makin berkurang akibat pemanfaatan lahan oleh perkebunan-perkebunan kelapa sawit di sekitarnya. Dari “pintu masuknya” di Pelabuhan Kumai hingga camp paling dalam yang digunakan untuk konservasi orangutan, Camp Leakey, dibutuhkan waktu 4 jam nonstop (pakai kelotok) atau 2 jam nonstop (pakai speed boat), menelusuri sungai Sekonyer. Sambil menelusuri sungai, buanyaaak banget hal baru yang bisa kita lihat, dan dijamin pengalaman baru itu bikin kita terkagum kagum! Dari mulai daun pandan ukuran raksasa yang bikin sungai mendadak harum kaya dapur toko bolu, atau tiba-tiba lihat anak buaya lagi nongkrong cari mangsa. Belum lagi pas sore hari, waktunya para primata berbagai jenis untuk keluar. Ada bekantan yang nongkrong sambil ngeliatin kelotok yang lewat, ada monyet yang bergerombol saling nyariin kutu satu sama lain. Ada lutung yang lompat sana lompat sini nyari buah.  Kata Bang Ennog, TNTP adalah rumah dari 9 jenis primata, antara lain orangutan, bekantan, monyet, wauwau dan tarsius. Empat lainnya saya lupa, hehehe… Yang paling sering kelihatan di sepanjang sungai Sekonyer adalah bekantan dan monyet. Kalau lutung dan wauwau, perlu sedikit kejelian untuk bisa menemukannya, selain jumlahnya memang lebih sedikit, juga karena 2 jenis primata ini lebih pemalu. Sementara tarsius di TNTP agak lebih besar dari yang ada di Manado. Tarsius ini bisa kita temukan kalau kita trekking malam di sekitar Pondok Ambung, kalau beruntung :p

Di sepanjang sungai Sekonyer  yang membelah TNTP, ada  3 camp tempat konservasi orangutan yang bisa kita kunjungi, yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. Sementara untuk bermalam (tempat bersandar kapal) yang diijinkan oleh pengelola TNTP adalah di Pondok Tanggui dan di Pondok Ambung. Di Tanjung Harapan dan di Camp Leakey dilarang untuk bersandar menginap. Kalau ga mau tidur di kelotok, bisa juga menginap di Desa Tanjung Harapan, ada Penginapan Flora di sana. Atau menginap di Rimba Eco Lodge. Jangan tanya rate-nya yaaa… saya ga cari tahu waktu ke sana, hihi.. I was happy and content with my kelotok.




Camp Tanjung Harapan

Dermaga Camp Tanjung Harapan

Dermaga Camp Tanjung Harapan

Ini camp pertama yang bisa dicapai dari Pelabuhan Kumai, sekitar 1 jam perjalanan. Sebagai camp selamat datang, Tanjung Harapan terlihat jauh lebih terbuka, dalam artian ga seserem tempat-tempat konservasi selanjutnya. Ada beberapa titik lampu yang pakai genset di malam hari. Ada beberapa  kamar mandi yang bisa dipakai, dan lumayan banyak peneliti dan karyawan yang tinggal di sana, jadi kalau siang lumayan rame. Ada juga semacam bangunan bilik yang dipakai untuk jadi museum kecil, sayangnya agak kurang terawat.

Feeding station di camp Tanjung Harapan sendiri dapat dicapai dengan jalan kaki sekitar 20 menit menembus hutan. Oiya, feeding station itu maksudnya titik tempat para pekerja konservasi meletakkan pisang dan susu putih di suatu panggung berpagar. Di jam-jam tertentu, biasanya sudah ada beberapa orangutan yang standby, nungguin “jatah” makanannya dianter. Orangutan yang nunggu di feeding station, biasanya adalah orangutan yang asalnya dari konservasi (dulu dipelihara manusia, trus diselamatkan/dikembalikan ke alam, dan dilatih lagi biar bisa kembali ke alam). Kalau orangutan yang bener-bener liar, mereka akan mencari makanan sendiri di dalam hutan.

Feeding time di Camp Tanjung Harapan adalah jam 14.45. Saya dan rombongan udah duduk manis di depan panggung dari jam 14.30, lumayan bisa dapet spot paling strategis untuk foto-foto. Sebelum si petugas datang, di panggung sudah ada Roger, orangutan jantan yang diperkirakan berumur sekitar 25 tahunan. Waktu itu mata kiri Roger sedang luka, kata guide saya biasanya luka kaya gitu di dapet karena berantem memperebutkan posisi raja atau alpha-male.

Tepat jam 15.00 petugas datang membawa bersisir-sisir pisang dan beberapa jerigen susu putih. Beberapa guide dari rombongan lain menirukan suara-suara lantang orangutan untuk memanggil orangutan. Dan benar saja, ga lama kemudian bermunculanlah orangutan dari berbagai macam penjuru. Ada yang masih gendong bayi orangutan, ada yang kayanya masih remaja bandel gitu, ada juga yang udah emak-emak tua. Yang unik, sistem alpha-male di dalam komunitas orangutan itu keliatan banget. Artinya, secara otomatis jantan yang lebih muda dan lebih kecil posturnya akan takut dengan yang lebih besar. Ketika si alpha-male udah mendekap beberapa sisir pisang, pejantan yang lebih muda ga akan berani tuh ngambil, tapi ga masalah kalau yang ngambil orangutan betina. Si alpha-male ga akan marah.

Dari awal sebelum masuk ke Camp Tanjung Harapan, Bang Ennog udah ngasih tahu beberapa aturan dasar kalau berada di dekat orangutan. Antara lain: ga boleh berisik, ga boleh makan/minum, ga boleh megang orangutan, stay away from the fence at the feeding station, dan jangan pernah berdiri di antara orangutan jantan dan orangutan betina (well, kadang susah bedain jantan dan betina dalam sekali liat, jadi amannya ya jangan pernah berdiri di antara 2 orangutan, gitu aja… ) Dan Bang Ennog ini saya lihat termasuk guide yang konsisten dengan aturannya. Dia ngasih aturan, dia juga negakin aturan buat dirinya sendiri. Contohnya, saat guide-guide yang lain “berisik” menirukan suara orangutan agar banyak orangutan yang dateng ke feeding station, dia ga ikut-ikutan manggil, karena memang sebenernya itu ga boleh dilakuin. Sekali waktu dia juga negur bule yang berfoto terlalu deket sama Tuti, seorang induk orangutan yang lagi “momong” anaknya. Sementara si  guide-nya bule itu sih cuek aja sama keselamatan tamunya. Kerenlah, Bang Ennog!

Camp Pondok Tanggui

Naah.. ini camp yang menurut saya paling creepy. Ga da lampu sama sekali, dermaga-nya juga kecil, hanya cukup untuk nempel satu kelotok (and lucky us, we’re the first, jadi kami bisa turun main main ke dermaga), kalau datengnya belakangan ya harus mau parkir di belakang kapal yang udah sandar, dan mau ga mau ga dapet akses ke dermaga, dan kapalnya nempel di pohon-pohon hutan. Hiiii..

Camp Pondok Tanggui

Camp Pondok Tanggui

Selain itu, di dalem camp cuma ada 2 rumah untuk penjaga camp, dan 1 bangunan gudang tempat nyimpen pisang. Ada juga satu pendopo kecil gitu yang kalau malem suka dipakai nongkrong sama si penjaga camp. Nah, trus dari dermaga tempat sandar kelotok sampai ke rumah si penjaga camp itu kan ngelewatin hutan bakau yang sering banjir kalau sungai lagi pasang, jadi dihubungin pake jembatan kayu. Pas malem-malem kami main ke rumah si penjaga (didorong keinginan kuat untuk nyobain alat yang bernama “anten”, semacam alat penguat syahwat sinyal hp), tiba-tiba di sebelah kiri jembatan, di tengah hutan ada rumah kecil yang mirip rumah di film-film horor gitu. Untung saya jalannya di tengah, jadi ga terlalu takut, hihi.. Kami main ke rumah penjaga camp itu jam 7 malem, dan saking sepinya udah kaya jam 2 pagi, saking gelap dan ga ada siapa-siapa. Ups, jangan berisik ya kalau di sana, karena jam 7 malem itu keluarga bapak penjaga camp sudah tidur semua.

Camp Pondok Tanggui

Camp Pondok Tanggui

Keesokan paginya, sekitar jam 8 kami menuju feeding station camp pondok tanggui. Feeding station yang ini lumayan jauh jalannya, hampir 45 menit sekali jalan. Dan mengingat Bang Ennog bukanlah guide ecek-ecek, jadi berangkat dan pulang dari feeding station, kami diajak jalan lewat rute yang berbeda. Berangkatnya lewat hutan lebat, lihat sarang tarantula, lihat kantung semar yang beneran lagi “nguyah” lalat, liat pohon pandan yang bisa bikin gatel-gatel, ditunjukin akar batang tertentu yang bisa diminum airnya kalau kita kehabisan air di dalam hutan. Sementara pulangnya, kami lewat rute yang biasa dilewati wisatawan. Jalan tanah ditengah padang rumput savana. Pas ditengah jalan, ketemulah sama menara pandang. Saya, Wahyu, Lio dan Windra naik sampai ke puncaknya. Serius serem bangeeett… Meskipun itu bangunan kayanya masih kokoh, pas begitu sampai atas baru keliatan ada beberapa bagian kayu yang udah copot dan anginnya kenceng bener. Untuk sampai di puncak menara, harus ngelewatin 4 tangga yang melingkar, dan entah siapa yang mendesain tangganya, mungkin bule-bule peneliti yang kakinya panjang-panjang itu ya, jadi jarak antar anak tangga itu lumayan jauh-jauh, mungkin sekitar 40 cm. Dan ujian buat kaki kurcaci saya belum selesai. Di tangga terakhir menuju puncak, anak tangga pertamanya copot dong! Buat Lio dan Windra yang jebolan Abang-None, ga masalah karena kakinya panjang, Wahyu juga tinggi jadi manjat 80cm gampang aja. Lha gw? Hahahaha… untungnya bisa sih.

Trus kenapa musti deramaaah?

Ya kalau ga deramaah bukan Titi namanya.

Saya udah pernah sampai puncak menara ini! *bangga*

Saya udah pernah sampai puncak menara ini! *bangga*

Demi 2 baris sinyal 3G

Demi 2 baris sinyal 3G

Naik itu satu masalah, turun masalah lain lagi...

Naik itu satu masalah, turun masalah lain lagi…

Untuk acara liat feeding time orangutannya sih kurang lebih sama kaya yang di Camp Tanjung Harapan, hanya orangutan di sini lebih banyak. Dan pepohonan yang lebih terbuka di bagian panggungnya jadi bikin atraksi orangutan yang gelantungan turun dari pohon jauh lebih seru untuk dilihat.

(bersambung)

Share: