Dermaga Kumai, Pintu Masuk TN Tanjung Puting

Dermaga Kumai, Pintu Masuk TN Tanjung Puting

Keinginan untuk bisa lihat orangutan di habitatnya langsung, sebenernya udah lama banget ada di otak saya. Makin pengen lagi waktu beli kaos di sebuah online shop kaos traveling, eh dikasih postcard bergambar orangutan. Wuiiihh.. seru kali ya menelusuri sungai di pedalaman Kalimantan, lihat orangutan bergelantungan di dahan. Iseng-iseng nanyalah saya ke online shop traveling itu, kalau mau ikut trip ke Taman Nasional Tanjung Puting berapa harga paketnya… jeng jeng! Jawaban yang diberikan menyebutkan harga yang cukup fantastis buat saya. Ya ga heran sih kalau mahal, yang pergi ke Taman Nasional Tanjung Puting itu kebanyakan wisatawan mancanegara, dan bukan tipe backpacker. Jadi yaaa.. kebanyakan guide di sana charge everything in USD.

Ok, nanti aja kalau gitu. *sambil tetep nabung recehan dan berharap suatu saat bisa ke Tanjung Puting*

Pangkalan Bun, here we come!

Pangkalan Bun, here we come!

Setahun berlalu semenjak saya mencintainya berharap bisa pergi ke Tanjung Puting, eh temen latihan yoga, Lio, ngajakin pergi ke sana sama temen-temennya. Pas Lio nyebutin angka budget yang harus dipersiapkan, eh lha kok bedanya lumayan jauh dari angka si ol shop traveling itu. Belum lagi segala macam bujuk rayu si Madam Lio ini yaaa.. susah bener ditolak, hehehe.. Akhirnya setelah semedi selama 15 menit… Oke, count me in!




Kapal Klotok yang Berpapasan di Sunga Seikonyer

Perjalanan di mulai hari Sabtu, 2 November 2013. Naik pesawat Trigana Air dari Jakarta selama kurang lebih 1 jam 10 menit saya, Wahyu, Lio, Heston dan Windra tiba di ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat itu sekitar pukul 11.30 siang. Di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, guide kami, Bang Ennog sudah menunggu. Perjalanan dilanjutkan dengan taksi bandara menuju Pelabuhan Kumai selama 20 menit. Dua puluh menit di Kalimantan beda dengan perjalanan 20 menit di Jakarta lho ya! Lumayan jauh juga Pangkalan Bun – Kumai. Jalanan yang dilalui lumayan bagus juga.

Di Pelabuhan Kumai, kami langsung naik ke kapal kayu atau yang oleh masyarakat setempat disebut kelotok, menuju ke Sungai Sekonyer. Titik akhir yang akan kami tuju, Camp Leakey di Taman Nasional Tanjung Puting jauhnya 44 km dari Pelabuhan Kumai.  Jika tidak punya banyak waktu,  bisa menggunakan speed boat, yang bisa menempuh perjalan Kumai – Camp Leakey nonstop 2 jam. Kalau kami, well… we have full four days here, so why so in hurry?

The Goggles 5

The Goggles 5

Kelotok yang kami tumpangi namanya One Piece, dinahkodai oleh Bang Kadir, dengan kernet yang saya lupa namanya, hehehe… Selain itu ada Ibu Inun yang bertugas memasak makanan. Kami berlima dan dan 4 orang crew klotok berlayar mengarungi Sungai Sekonyer yang airnya berwarna cokelat kopi susu. Meski tidak jernih, sugai ini jauh dari bau busuk karena warna cokelatnya bukan berasal dari sampah, melainkan dari endapan tanah yang di hulu sungai yang terbawa aliran air. Mungkin ini tandanya di hulu sungai hutan mulai gundul. Too bad. Sepanjang pinggiran Sungai Seikonyer ditumbuhi berbagai macam tanaman, baru kemudian hutan lebat setelahnya. Di daerah sekitar muara, tanaman nipah yang mendominasi pinggiran sungai. Makin masuk ke bagian dalam sungai, tanaman pandan raksasa yang harum menggantikan tumbuhan nipah. Lebih masuk ke dalam lagi, berganti dengan tanaman sejenis bakung, yang juga berukuran jauh kebih besar daripada yang pernah saya lihat di Kebun Raya Bogor. Setelah mendekati Camp Leakey, tanaman yang ada di pinggiran sungai adalah sejenis pohon bakau/mangrove. Baru tanaman yang ada di pinggiran sungai aja udah bikin saya ternganga-nganga. Maklum, jarang banget kami lihat tumbuhan yang aneh-aneh. Anak kota masuk hutan!

Selama 4 hari tiga malam itu, apa saja sih yang bisa dilihat di Taman Nasional? Ada 3 hal utama yang bisa kita lakukan, yaitu:

1. Lihat feeding session orangutan di Camp Pondok Harapan, Camp Tanggui dan Camp Leakey.

2. Explore the National Park. Lihat kehidupan (hewan) malam di Pondok Ambung. Kalau beruntung bisa ketemu sarang tarantula dan tarsius. Trus bisa juga lihat kehidupan masyarakat setempat di Desa Tanjung Harapan.

3. Bengong, makan, minum, sambil dadah-dadah sama bule yang klotoknya papasan. Hehehe…

Parkiran Klotok di Camp Leakey

Parkiran Klotok di Camp Leakey

Begitu masuk ke Sungai Sekonyer, dan lepas dari Camp Tanjung Harapan, sinyal ponsel langsung lenyap. Dan makin jauh ke dalam, makin hilang sama sekali itu sinyal. Jadi kami tak punya pilihan lain selain harus ngobrol dan main bareng berlima kalau mau survive tetep waras sampai pulang. 😛 Inilah saatnya untuk mengasah kembali interpersonal skill yang sudah lama berkarat.

Cerita tentang orangutan sendiri, tunggu kelanjutannya yaaa..

Cerita tentang orangutan & Taman Nasional Tanjung Puting bisa dibaca di sini dan di sini. Untuk tips-tips mengunjungi TNTP bisa dibaca di sini.

 

Share: