Pulau Samalona; Si Cantik Dari Jauh

 

Perhatikan foto di atas, cantik banget ‘kan? Itu foto Pulau Samalona, saya ambil dari atas perahu yang membawa saya ke sana dari Pelabuhan Kayu Bangkoa, Makassar. Waktu ngambil foto itu, rasanya ga sabar untuk segera merapat di pantainya yang putih. Tak sampai 5 menit kemudian begitu merapat, langsung disambut pemandangan seperti ini…

ada bekas api unggun aja gitu...
ada bekas api unggun aja gitu…

Wakwaaaaw… gunungan bekas pembakaran sampah, atau bisa jadi api unggun, seluas kira-kira 1.5m persegi terbentang di pasir pantai putih Pulau Samalona.

Selain itu, langsung terdengar musik dangdut kencang banget dari sound system entah berkekuatan berapa desibel. Hmmm… bising sekali. Saya pikir itu suara dari panggung musik dangdut dari suatu kafe. Ternyata, dari suatu penginapan saja, saudara-saudara. Ada rombongan -dari bahasa yang mereka gunakan, rasanya sih bukan dari luar SulSel- yang menginap lengkap dengan acara dangdutan di tengah hari bolong.

But, who am I to complain?

Saya ‘tamu’ di pulau ini, dan selayaknya tamu, wajib menghormati tuan rumah dan menyesuaikan diri. Jadi mari nikmati saja lagu Pacarku Lima Langkah. *lho, kok apal?* *tahan jempol* 😀

Berjalan agak menjauh dari pusat keramaian di pantai sebelah depan, kami bergeser agak ke bagian samping pulau. Di bawah pohon ada bale-bale bambu, kami niatnya mau leyeh-leyeh di situ sambil istirahat sehabis snorkeling. Begitu menuju si bale-bale, seorang bapak langsung mengikuti kami dan menanyakan mau minum apa, dia akan pesankan. Wah, baik sekali, pikir saya. Ternyata setelah itu dia minta bayaran ‘sewa’ bale-bale sebesar IDR 50.000.

What?! Lima puluh ribu?

Itu bale-bale bambu meski di bawah pohon tetap panas, dan saya yakin biaya bikinnya juga ga lebih dari seratus ribu, bisa-bisanya kami disuruh sewa IDR 50.000. Ogah!

Dengan nada berubah ketus si Bapak bilang, “memang segitu harga sewa di sini, tanya saja yang sebelah kalau tidak percaya, tidak dibeda-bedakan! [antara pengunjung lokal dan dari luar pulau]”

Coba bandingkan dengan payung-payung cantik di Pantai Dreamland, Bali yang saya ambil dari atas Restoran KLAPA ini.

 

Payung yang harga sewanya IDR 50.000 juga!
Payung yang harga sewanya IDR 50.000 juga!

Harga sewanya juga IDR 50.000, sama-sama bayar ke penduduk lokal (bukan ke resto-nya), tapi payung-payung itu bersih dan nyaman sekali!

Nope. Kalau sekedar IDR 20.000 saja, kami masih rela. Tapi kalau IDR 50.000 untuk sekedar duduk di bale-bale bambu, mendingan duduk di warung sambil makan deh. At least we can eat.

Pindahlah kami ke kantin yang terletak di tengah-tengah pulau. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebelum makan saya tanya dulu harganya. Duh, malu juga sih musti begini. Tapi nyesek banget kalau udah makan tahu-tahu harganya dimahalin. Bapak penjaga kantinnya ramah banget, dan menjawab semangkok indomi rebus pakai telur IDR 6.000 saja. Oh, okay, you’re not fooling us, Pak… So we’ll eat here! *senyum sumringah karena akhirnya bisa makan, udah laper dari tadi, hihihihi*

 

Jadi hampir 1.5 jam duduk di warung itu, 6 porsi indomi, 4 teh kotak, 2 mizone, 1 pocari sweat botol, 3 bungkus kacang garuda, 1 bungkus pilus, totalnya cuma IDR 78.000. Beda IDR 28.000 doang sama si bale-bale, tapi perut kenyang hati senang. ;p

Selama yang lain makan dan santai-santai, saya sempatkan keliling Pulau Samalona. Dan beberapa kali saya mendapati pemandangan yang bikin saya mikir…

“Wheeew! Everything’s charged here!”

Toilet umum untuk sekedar cuci tangan-kaki, pipis, bayar lima ribu rupiah.

Di pantai sebelah belakang, kembali saya mendapati seorang bapak meminta uang sewa bale-bale ke serombongan anak SMP. Dua bale-bale, IDR 100.000. No bargaining!

Penginapan kumuh sekali, ber-cat biru mengelupas di sana-sini, dengan 2 kasur single yang digelar di lantai di banderol dengan harga IDR 300.000 per malam. Dua orang bekpeker cewe dari Belgia meminta tolong saya untuk menerjemahkan tulisan harga di dindingnya, dan kecewa sekali begitu mengetahui artinya. Sorry, Girls… Di belahan negara saya lainnya, kalian bisa dapat yang jauh lebih murah, dan lebih manusiawi.

Misalnya, di Kepulauan Seribu, penginapan IDR 350.000 itu sudah bisa muat 7 hingga 10 orang. Lengkap dengan AC, tv dan lantai yang bersih.

Atau penginapan yang saya inapi di Pulau Weh, IDR 250.000 untuk berdua, super nyaman!

Kenapa ya Pulau Samalona ternyata sebegini ‘hancurnya’? Saya khawatir, kalau pengelolaannya terus begini, lama-lama wisatatawan kapok main ke sana. Apa dari dinas pariwisata setempat tidak pernah mengadakan pembinaan, penyuluhan, bimbingan, atau apapun lah untuk penduduk setempat, tentang bagaimana memperlakukan wisatawan?

Sayang banget kan kalau pulau secantik ini hanya nyaman dinikmati dari jauh saja.

3 Responses
    1. parah1ta

      Hi, Shella… 😉

      Pada dasarnya Pulau Samalona cukup ok untuk dikunjungi. Cuma hati2 saja dengan cara warganya memperlakukan wisatawan…

      Saya belum pernah ke Tanjung Bira, waktu ke Makassar hanya sebentar, ga cukup waktunya. Dari cerita teman2 saya sih Tanjung Bira ok banget..

      Have fun ya di Makassar! 😉

      1. Jeklin

        D tanjung bira oke banget.. dulu aku ke sana tahun 2009, belum di kenal banyak orang.. tapi baguus bangeet di sana… coba dehh ke sana 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: