Di ibukota saya jarang banget bisa lihat kupu-kupu. Begitu keluar dari gang depan kost, langsung ketemu jalan besar dan gedung pencakar langit. Mana mau kupu-kupu dateng ke tempat yang ga berbunga, panas pula macam Jakarta ini. Paling pol bisa lihat kupu-kupu, paling yang warnanya hijau muda, dan badannya kecil.

Taman Nasional Bantimurung, dulu saya bayangkan adalah tempat yang penuh bunga-bungaan, jadi kupu-kupu mau dateng dan berkembang biak di sana. Ternyata setelah sampai di sana, hampir ga ada lho bunga-bungaan. Yang ada justru tebing-tebing karst tinggi yang kemiringannya rata-rata 90o, dan ditumbuhi tumbuhan hijau. Ga tau kalau di bagian hutan-hutannya yaa.. Mungkin banyak bunga di dalamnya.

Nama resmi taman nasional ini sebenarnya adalah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, sedangkan Gunung Bulusaraung terletak di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Yang umum didatangi wisatawan adalah pegunungan karst Bantimurung saja, mungkin karena untuk mendaki gunung dibutuhkan usaha yang lebih. Makanya Bulusaraung agak kurang terkenal dibandingkan Bantimurung.

Air Terjun Bantimurung

Air Terjun Bantimurung




Dari Bandara Sultan Hasanuddin, cuma membutuhkan waktu sekitar 45 menit ke Bantimurung. Naik kendaraan pribadi, dan agak ngebut. Terus terang saya ga tahu rute angkot kalau mau ke sana, hehehe.. Tiket masuknya IDR 15.000/orang, anak-anak dan dewasa sama saja harganya. Begitu antri di loket, biasanya sudah ada pemuda lokal yang mendekati kita dan tanpa diminta mulai sedikit menjelaskan tentang Taman Nasional ini. Itu kode mereka untuk menawarkan jasa guide. Kalau ingin mengenal lebih jauh tentang Bantimurung, tak ada salahnya memakai jasa mereka. Namun kalau ingin tenang jalan-jalan sendiri, silakan di tolak dengan sopan ya.

Pedagang Souvenir di Pintu Masuk Taman Nasional Bantimurung

Pedagang Souvenir di Pintu Masuk Taman Nasional Bantimurung

Selain menawarkan jasa, biasanya mereka di akhir ‘tour’ akan menawarkan kupu-kupu yang sudah diawetkan tapi belum dibingkai. Menurut saya sih harganya sedikit lebih mahal daripada yang dijual di kios. Rata-rata di kios satu bingkai kupu-kupu isi 4, dijual dengan harga IDR 20.000, sementara untuk si guide menawarkan 10 kupu-kupu dengan harga IDR 200.000, setelah ditawar temannya saya, deal di harga IDR 150.000. Guide satunya lagi nawarin gantungan kunci, 10 buah IDR 150.000. Besoknya di toko oleh-oleh di Makassar saya lihat harganya IDR 7.500 per buah. Saya pribadi memilih untuk tidak membeli apapun dari mereka, tapi memberikan tips atas jasanya menerangkan tentang Bantimurung.

Begitu melewati pintu masuk, kita langsung disambut oleh tebing karst yang menjulang tinggi di sebelah kiri. Lalu tak jauh di depannya, ada air terjun yang airnya mengalir lembut. Airnya berwarna agak hijau toska, entah karena sejenis algae atau sulfur, saya kurang tahu. Banyak anak-anak bermain perosotan menggunakan ban dalam mobil (tubing). Melihat tawa riang anak-anak yang main air itu, pasti tubing itu  menyenangkan ya! Sayang baju ganti saya di mobil, ga bisa deh nyobain asiknya main air di Bantimurung.

Jalan terus lurus melewati air terjun, lalu naik ke 116 anak tangga (kata si Daeng-Guide-yang-kami-lupa-tanya-namanya, dan saya beneran ngitung!), ada  trek lurus kira-kira sejauh 700m harus dilalui. Jalannya lumayan licin karena bekas hujan, dan dibeberapa bagian tembok pembatasnya ada yang roboh akibat di terjang banjir bulan Februari lalu. Jadi, hati-hati ya!

bantimurung 1

Dibeberapa bagian trek, kami melewati hutan dengan pepohonan rindang. Kata Daeng Guide, kalau lagi musim buah, banyak monyet-monyet yang bergelantungan di pohon. Dan ga kaya monyet di Sangeh atau Tawangmangu yang hobi ngerebut barang, justru monyet di sini sering ngasih buah-buahan yang dia miliki kalau kita mengulurkan tangan dengan baik-baik. Hmm.. menarik! Setelah melewati hutan, sampailah kita di tepi danau mungil yang airnya juga berwarna hijau toska. Tepian danaunya dipagar, karena sering ada yang nekat berenang padahal yang sudah dilarang. Akibatnya, beberapa waktu yang lalu ada yang hilang tenggelam di danau itu. Agak naik sedikit dari danau, terdapat Gua Batu. Gua Batu ini ga terlalu dalam, kira-kira hanya 100 m. Untuk masuk ‘diwajibkan’ menyewa lampu petromaks kepada bapak penjaga gua, IDR 50.000 per lampu. Tambahan opsional, sewa senter IDR 10.000/senter. Stalaktit dan stalagmit di Gua Batu bagus-bagus. Beberapa masih aktif, beberapa sudah mati. Di mulut gua, ada stalaktit yang kalau dipukul bisa bunyi mirip gong.

It was nice to visit Bantimurung. Sayangnya, kami datang bukan di musim kupu-kupu, jadi cuma sedikit berjumpa dengan hewan cantik itu. Datanglah di bulan Agustus, katanya itu waktu terbaik untuk mengunjungi Bantimurung.

Share: