Awal saya tahu ada yang namanya Pulau Perak di Kepulauan Seribu dari guide trip Pulau Bira, Pak Epi. Beliau nawarin bikin trip camping di Pulau Perak, temen-temen #TheKomodos pun waktu itu excited banget mau ikutan camping-nya. Cuma saya yang masih belajar ngatur trip kok rasanya belum pede ya kalau ngadain trip camping. Well, you know… Camping itu jauh lebih ribet persiapannya dibanding trip tidur di homestay kaya biasanya. Harus nyiapin tenda, makan juga hanya bisa nyiapin seadanya, kamar mandi? Hmmm… masih untung ya ada spanduk dibentangkan membentuk kotakan sederhana di tengah hutan, heheheh…

Pulau Perak, dari Perahu

Pulau Perak, dari Perahu

Hasil ngobrol-ngobrol singkat dengan Pak Epi, cuma dapet bayangan kalau Pulau Perak itu letaknya di sekitar Pulau Putri, kira-kira 45 menit perjalanan naik kapal kecil dari Pulau Harapan. Biaya camping di sana IDR 100.000. Pantainya bagus, dan di Pulau Perak ga ada penduduknya, hanya ada 1 orang penjaga saja. That’s all. Dari pertengahan Oktober udah tahu soal ini, tapi ga berani arrange sampai akhir April. Yang bikin makin yakin untuk akhirnya mengeksekusi camping Pulau Perak akhirnya juga #TheKomodos. Dalam rangka memperingati anniversary (ceileee…) gitu ceritanya. Kalau tripnya bukan bareng mereka, kayanya saya ga bakalan pede untuk in-charge sebagian keperluan deh. Pasti saya cuma pede jadi peserta kaya waktu camping di Pulau Semak Daun. *gelendotan manja sama kk Nyanyu*

What’s so special about #TheKomodos? Well, actually only one thing; we understand each other so well, sometime a smirk or a glance could tell our feelings and the others easily understand. Jadi camping sama mereka membuat saya yakin, kalaupun sesuatu yang buruk atau ga mengenakkan terjadi, everything’s gonna be alright. Buat orang yang agak worry-ful kaya saya, itu penting. Hihihi..




Back to the camping story. Hasil googling sana-sini, akhirnya dapet tuh nomor HP Pak Minang, penjaga Pulau Perak. Lho, kenapa ga hubungi Pak Epi aja? Karena oh karena, saya terlalu pintar dan tidak menyimpan nomor HP Pak Epi, lalalalala… Sekali nyambung, baru ngobrol sebentar yang intinya: Ya, silakan datang saja kalau mau kemah di sini… Tiiit. Telepon terputus, dan saya hubungi kembali ga bisa. Mau nyerah pasrah, kok terlanjur malu udah bilang sanggup sama temen-temen ya. Googling lagi, dapatlah nomor HP Pak Ilham. Beliau ini kayanya sih tour organizer di Pulau Harapan. Long story short, urusan kapal antar-snorkeling-jemput, nasi box untuk maksi pas sampe dan pulang, aqua galon, beres. Yang lainnya, kaya tenda, lampu, kompor dan gas, panci masak, bahan makanan, kami bawa semua dari Jakarta. Dibagi rata berdelapan.

perak (8)

Sebelum ‘dihajar’ Antimo

D-day, kami ngumpul di pom bensin pelabuhan Muara Angke seperti biasa. Jam 6.45 semua udah dateng, langsung naik ke kapal Bahtera tujuan Pulau Harapan. Tiga jam perjalanan, sengaja kami minum antimo dan tidur pulas di sepanjang jalan laut. Begitu sampai di Pulau Harapan, kapal yang Pak Ilham sediakan untuk kami sudah siap. Karena lapar dan mau beli telur dulu, kami ga langsung jalan ke Pulau Perak. Jam 12, baru kami berangkat. Mampir sebentar ke Pulau Perak karena ada yang mau pinjam life-vest, saya turun sebentar untuk ketemu Pak Minang, minta tolong disiapkan spot buat diriin tenda. Setelah melihat situasi di Pulau Perak, ga heran waktu saya telp dulu, terputus dan ga bisa nyambung lagi. Lha wong ga ada listrik, bisa jadi HP Pak Minang low-batt, dan ga bisa nge-charge.

Setelah dari Pulau Perak, diantar guide yang bernama Mas Riki, kami snorkeling di dekat Pulau Macan Gundul. View underwater-nya biasa aja. Oh iya, guide yang kami hire ini bisa dibilang magabut sih. Secara hampir semua udah biasa snorkeling, beberapa ada yang punya license open water diver. Pas pertama berhenti di spot snorkeling Mas Riki nanya:

“Mba Titi udah bawa alat sendiri ya?”

“Iya, Mas.. Semua bawa sendiri.”

“Udah tahu cara pakainya?”

“Udah”

*errr, sambil mikir.. lha kalau punya masa ga tau cara makainya, trus kepikiran, eh bisa jadi dia mikir ini alat pinjeman juga*

Trus udah aja, semua pada lompat ke air dan meninggalkan Mas Riki di atas kapal bersama si Bapak nahkoda kapal dan Sisil & Endah yang ga ikutan snorkeling. Pasti pedih itu perasaan Mas Riki. *puk-puk Mas Riki*

Saya dan Destia

Saya dan Destia

Ucok dan Mas Riki

Ucok dan Mas Riki

Biar ga terlalu magabut, Mas Riki akhirnya kita mintain tolong buat ngejar Ucok (yang ga cuma di Pulau Rinca, di Pulau Bidadari, di Pink Beach) paling hobi mencar sendirian. Jadi tugasnya adalah ngasih tau Ucok kalau kita mau pindah spot snorkeling.

Setelah dari Macan Gundul, kami pindah ke satu spot lagi (lupa namanya) tapi itu spot jelek banget karena karangnya pada patah semua, terakhir ke Pulau Tongkeng. Yang terakhir lumayan bagus, hanya saja sayang banyak ubur-ubur kecil yang bikin gatal. Semenjak pernah liat bibir orang jontor terkena ubur-ubur di Pulau Weh, saya parno kalo liat ubur-ubur. Akhirnya cuma snorkeling sebentar dan langsung cabcus lagi ke Pulau Perak.

The Girls with The Tents

The Girls with The Tents

Diantara kami berdelapan, yang pernah punya pengalaman diriin tenda kayanya cuma  Ucok aja. Jadilah sore itu, cewe-cewe kursus singkat masang tenda sama Ucok. Dan ga sampai 30 menit, 3 tenda sudah berdiri tegak. Siap digunakan kalau hujan datang. Dan ternyata hujan beneran datang jam 4 pagi. Ga hujan deres sih, cuma gerimis, tapi cukup bikin banyak kejadian konyol karena kami semua lagi tidur pulas-pulasnya. Tapi apalah artinya camping tanpa kehebohan kena hujan, masak [agak] gosong, dan mandi sambil tunggu-tungguan karena kamar mandinya bener-bener di tengah hutan?

Pantai di Pulau Perak

Pantai di Pulau Perak

1

Camping di Pulau Perak ini bener-bener seru. Kami sudah merencanakan mau ngulang lagi, dengan rencana; ga usah ada acara snorkeling keliling, begitu sampai di Pulau Harapan langsung cabut ke Pulau Perak biar dapat spot camping yang lebih asoy, bawa perbekalan yang serius (instant noodles are not allowed), dan seharian isinya cuma leyeh-leyeh, masak, makan, berenang di pantai. Sounds fun, rite? Wanna join us?

Share: