Perkenalan awal saya dengan Kepulauan Seribu, ya dengan Pulau Tidung ini. Februari 2009 kalau ga salah. Waktu itu saya ikut trip yang dibikin trip organizer gitu, lupa namanya apa. Yang pasti sih harganya IDR 220.000, terhitung cukup murah saat itu, karena Pulau Tidung hampir booming banget, dan rata-rata penyelenggara tour mematok harga IDR 350.000. Kenapa hampir booming, karena 2 minggu setelah saya dari Pulau Tidung, pulau ini masuk ke liputan jalan-jalannya TransTV, dan diberitakan 2000 wisatawan berkunjung kesana pas liputan itu.

tidung 4

Setelah saya terbiasa jalan-jalan sendiri ke Kepulauan Seribu, baik yang ngurus sendiri maupun yang diurusin temen, sadarlah saya bahwa harga IDR 220.000 itu sangat wajar untuk paket yang saya dapat saat itu di Pulau Tidung. Peserta yang dibawa saat itu hampir 200 orang. Sementara fasilitas yang didapat cuma: homestay (tidur di rumah penduduk, tanpa AC, 2 kamar tidur 1 ruang tengah, bersepuluh), makan 3x, sewa sepeda, tur keliling Pulau Tidung Kecil, dan pulangnya mampir Pulau Onrust. Tanpa paket snorkeling dan sewa kapal untuk islands hopping. Snorkeling di sekitar Jembatan Cinta masih bisa sih, dengan sewa alat IDR 35.000.

Kunjungan ke dua ke Pulau Tidung, juga ikut dengan tour organizer. Sebenarnya ini kunjungan tidak direncanakan. Awalnya saya dan teman-teman membeli voucher paket ke Pulau Pari. Eh ternyata, D minus 8 hours, destinasi diubah ke Pulau Tidung. Untuk cerita lebih lengkap mengenai mimpi buruk ngetrip dengan Solata Travel, bisa dibaca di sini.




tidung 2

Tahun 2009, di bawah Jembatan Cinta yang terkenal itu, masih bisa dipakai snorkeling. Hard coral warna-warni masih lumayan untuk dilihat. Geser sedikit ke arah selatan, di dekat dermaga beton, juga masih ada koral cantik, bahkan ada soft coralnya. Meski arusnya agak kenceng di bawah Jembatan Cinta, tapi saya masih bisa menikmati saat-saat belajar snorkeling di sana. Oh, tahun 2009 itu, sudah booming juga tuh loncat-loncatan dari atas Jembatan Cinta. Tapi, karena masih ada hardcoral di bawahnya, loncat dari jembatan hanya bisa dilakukan saat air sedang pasang. Kalau lagi surut, bisa-bisa kaki (atau bagian tubuh lainnya yang masuk ke air duluan) bisa kena tajamnya karang.

tidung 1

Lalu beberapa bulan setelahnya, muncul berita di TV kalau pariwisata di Pulau Tidung sedang booming berat. Mulai bermunculan operator water-sport seperti banana boat, jetski, dan doughnut boat yang makin menambah ramai Pulau Tidung. Agar acara main water sport makin aman, ‘terpaksalah’ hard-coral di bawah Jembatan Cinta ‘dikorbankan’, dikeruk paksa agar banana boat bisa melaju aman dan menjatuhkan penumpangnya.

What a waste!

tidung 9 Sayang banget kan?! Demi keuntungan ekonomi saat ini, kita tega merusak alam. Nanti kalau pada akhirnya pantai di Pulau Tidung jadi jelek karena sudah ga ada lagi karang yang menahan abrasi, orang sudah bosan dengan permainan water-sport, dan ikan-ikan pergi dari Kepulauan Seribu karena rumahnya rusak, nelayan di Pulau Tidung mau makan apalagi?

Masa sih dari 2009 hingga ke 2013 ga ada kemajuan di Pulau Tidung, yang ada hanya kemunduran doang?!

Oh gaaaa… ada kemajuan juga yang saya lihat. Dan saya cukup senang melihatnya.

Misalnya, kalau dulu untuk penginapan kita harus tinggal ‘nyampur’ dengan penduduk di homestay, sekarang sudah banyak penginapan yang memang dikhususkan untuk penginapan. Meski tinggal dengan penduduk bagi sebagian orang lebih menarik karena bisa mengenal budaya lokal lebih dalam, namun jika sudah menyangkut industri pariwisata, adanya penginapan yang nyaman bagi turis itu sudah menjadi suatu kewajiban.

tidung 8

tidung 5

Tahun 2009, di satu-satunya alat transportasi yang umum adalah sepeda dan sepeda motor. Kalau ga mau sewa itu, ya jalan kaki saja kemana-mana. Pilihan lainnya adalah naik ‘odong-odong’, sebuah sepeda motor triseda yang biasanya dipakai mengangkut barang, disulap menjadi angkutan penumpang. Waktu itu ongkosnya IDR 2.000, dari Jembatan Cinta sampai dermaga, alias ½ panjangnya pulau. Dan triseda itu cuma ada satu saat itu, jadi ya kalau mau naik, siap-siap nunggunya lama dan berebutan.

Sekarang, selain sepeda, sepeda motor, sudah ada becak motor, kaya yang ada di kota Medan. Dari dermaga hingga ke penginapan Solata Travel yang ada di ujung barat Pulau Tidung, kira-kira untuk jarak yang sama dengan dari Jembatan Cinta ke dermaga, ongkosnya IDR 20.000, bisa dibagi bertiga. Lumayan murah sih, tapi kalau saya pribadi lebih suka jalan kaki ke mana-mana, heheheh… *menatap betis*

tidung 6

Pilihan warung makan. Dulu, kalau pengen jajan, paling ya jajanan yang ada nasi goreng, bakso dan mie ayam aja di sekitar dermaga. Sekarang sudah ada banyak warung makan aneka jenis seafood, disepanjang jalan menuju Jembatan Cinta. Bahkan di pantainya sendiri ada satu lokasi khusus yang isinya warung-warung makan.

Buat saya dan teman-teman, ga penting deh makan seafood di pulau, gorengan pun sudah cukup bikin kami bahagia asal makannya bersama-sama… *mureeee*

*lalu terdengar bekson orang muntah*

Well, semoga saja semua pihak yang terkait dengan pariwisata di Pulau Tidung ke depannya makin bijaksana mengelola. Ga cuma masyarakatnya sih, termasuk juga wisatawan yang berkunjung. Dijaga pulaunya, biar anak cucu masih bisa menikmati keindahannya.

After all, it was good to see you again, Tidung!

Share: