Pulau Semak Daun adalah pulau tidak berpenduduk yang terletak di sebelah barat Pulau Pramuka, 30 menit perjalanan naik perahu kecil. Tidak berpenduduk, tapi ada penghuninya, yaitu satu keluarga yang menjaga pulau itu. Kalau kita mau camping di Pulau Semak Daun, tinggal permisi aja sama bapak penjaganya, pilih spot buat diriin tenda, dan bayar ‘uang kebersihan’ IDR 10.000/orang ke bapak itu. Eits, bayar uang kebersihan bukan berarti boleh buang sampah sembarangan di pulau itu ya! Kalau bisa sih jangan tinggalin sampah apapun, atau kalau terpaksa nyampah (bungkus makanan, botol air mineral, tissue, sisa makanan) buahlah di tempat si bapak biasa membuang sampah. Biar benda-benda yang masih bisa digunakan kembali dipungut sama bapaknya, yang ga kepake dibakar deh.

semak daun 7

Di Pulau Semak Daun, ada 3 pantai yang bisa dijadikan camping ground. Satu pantai di sisi barat, dan 2 pantai di sisi timur. Waktu camping di sana, kami kebagian spot yang di sisi barat, di balik pohon-pohon cemara laut. Meski kecil, Pulau Semak Daun cukup lumayan buat camping. Kelompok saya saja 10 orang bisa muat di satu camping ground. Di dua spot lainnya, malah saya lihat anggota kelompoknya jauh lebih banyak. Kalau ga kebagian pantai buat camping, masih bisa tidur di dermaga sambil lihat bintang.

semak daun 3




Berawal dari ajakan kk Nyanyu untuk melepas penat, akhirnya saya ngerasain pengalaman tidur beralaskan matras tipis di atas pasir. Dan tidurnya pules! Sampai pas subuh-subuh sempet hujan gerimis dikit, temen-temen ngajakin untuk masuk ke tenda saya dan CiAmi yang tidur di sebelah saya cuma bangun dan duduk, lalu komen ‘ada apaan sih? Oh hujan…’ trus tidur lagi, hahahaha… Dasar kebo! Baru setelah gerimisnya agak deres dikit, ngesotlah kami ke tenda.

Waktu berangkat camping kesana, kami ngumpul kesiangan di Muara Angke, akibatnya udah ga dapet tempat di kapal yang berangkat jam 7. Terpaksa nunggu kapal berikutnya dateng jam 10, dan ngampar dulu di pom bensin macam pengungsi. But we’re a bunch of easy-go-lucky persons, jadi ya ga masalah mau gimanapun keadaannya, tetep haha-hihi cengengesan.

Sampai di Pulau Pramuka, transit dulu buat isi perut dan ganti baju renang. Sambil beli bekal buat makan malam. Setelah semua siap, naiklah kita ke kapal kecil yang kita sewa buat nganter ke Pulau Semak Daun dan ke spot snorkeling. Di perjalanan, ternyata dari 12 orang terpecah jadi 2 kubu, yang mau lanjut snorkeling dan yang mau leyeh-leyeh aja di pulau. Akhirnya disepakati ngedrop dulu yang mau leyeh-leyeh baru lanjut snorkeling. Disini terjadi miskomunikasi, bekal makan malam yang ada 2 kresek, kita (orang-orang yang pergi snorkeling) ambil 1 kresek, tanpa kita cek isinya apa. Ternyata si ibu penjual pecel ayam ngebungkus nasi-nya dipisah dari ayam. Jadi yang kita bawa cuma nasi putih aja. Sementara temen-temen yang leyeh-leyeh di pulau, nyangkain kita bawa semua itu makanan, dan leyeh-leyeh di pulau dengan kelaparan. But then again, we’re a bunch of happy-go-lucky persons, so yeah we’re just laugh about it. Dan dengan perut lapar berenang-renang di lautan dengan gaya ayam, membayangkan makan pake ayam senja itu.

 semak daun 4

Selesai snorkeling, balik lagi ke Pulau Semak Daun, tenda dan beberapa hammock punya temen udah dipasang. Kompor portable pun dinyalain dan bikinlah kopi buat rame-rame. Tiba waktunya ngeluarin snack yang dibawa. Doeengg! Ternyata hampir semua orang bawa snack yang cukup buat 10-15 orang, jadinya terkumpullah itu segunung cemilan macam habis ngerampok Alfamart aja! Hahahaha… Belum lagi pesenan ikan dan kepiting bakar, sampai ga sanggup lagi perut menampung semuanya.

Meskipun pas sekitar subuh tidur sedikit terganggu dengan gerimis kecil, besok paginya, it did feel great bangun pagi di tepi pantai. Dan pagi itu, kayanya semua orang ga pengen bangun dari alas tidurnya deh! Leyeh-leyeh to the max. Sampai sekitar jam 10an kami dijemput oleh kapal DJ Dikun untuk balik ke Pulau Pramuka, rasanya ga rela balik ke Jakarta…

Yuk, kapan-kapan kita camping lagi! 😀

Share: