Pernah ngalamin bangun tidur, badan pegel-pegel, tapi hati rasanya excited banget? Itu yang saya rasain pas bangun tidur di atas Kapal Rainbow, di Teluk Kalong. Pas buka mata, lihat matahari baru pecah kemerahan di ufuk timur, wow!

Breaking Dawn at Kalong Bay, Komodo Island

Breaking Dawn at Kalong Bay, Komodo Island

Pegel-pegel karena seharian kemarin trekking dan snorkeling tetep terasa sih, tapi rasanya ga sabar untuk memulai petualangan hari ini; trekking di Pulau Komodo! Jam 6.30 kapal mulai bergerak meninggalkan Teluk Kalong. Kami para penumpang tinggal duduk manis sambil menikmati sarapan mie rebus. Dari Teluk Kalong ke pintu masuk TN Komodo ga terlalu jauh, cuma butuh 30 menit naik kapal. Begitu turun kapal, langsung lapor lagi ke kantor ranger, terus tinggal bayar buat ranger doang.

Saya lupa nama ranger waktu di Pulau Komodo siapa, pokoknya namanya tuh ada hubungannya sama Sulawesi gitu deh, daerah asalnya. Dari awal kami memang pengen ngambil long-track, karena kami pengen liat semuanya. Ternyata si bapak ranger ini baru aja jalan kaki dari kampung pemukiman warga di Pulau Komodo sampai ke kantor ranger, yang menghabiskan waktu 2 jam –katanya, wong kami juga ga nyobain- Nah, karena itulah kayanya rute long-track kami dipendekin. Agak sebel sih, kan jadi ga lihat view laut dari atas bukit.




long track komodo

Silakan pilih rute trekking mu! 😀

Trekking di Pulau Komodo menurut saya jauuuuuh lebih gampang daripada di Pulau Rinca. Pertama, karena jalur trekkingnya sudah ‘dibuka’, jadi tinggal ngikutin jalan setapak yang sudah disediakan. Kedua, kondisi alam Pulau Komodo juga relatif lebih datar dibanding Pulau Rinca yang berbukit. Ketiga, kami beruntung bisa mulai trekking pagi-pagi banget.  Matahari masih ramah, dan udara masih segar. Owww, di Pulau Komodo juga lebih banyak pepohonan tinggi, ga kaya Pulau Rinca yang gersang, tandus, mirip savana.

And we were lucky! Di Pulau Komodo, kami ketemu lumayan banyak komodo di alam liar. Baru nyampe aja, udah ketemu yang gede banget di bawah gazebo pinggir pantai. Baru jalan trekking kira-kira 700 meter, ketemu lagi 2 ekor lagi main di kubangan kecil. Lanjut trekking kira-kira 30 menit, pas posisi kami di bawah bukit, saya nengok ke atas dan ada komodo sedang berjemur di atas batu. Spontan saya berbisik ke ranger di depan saya “Pak, di atas sana ada!” Bapak ranger mempercepat langkah ke atas bukit, dan kami mengikuti. Ternyata di atas bukit selain komodo yang sedang berjemur di atas batu (yang akhirnya lari menjauh) ada lagi seekor komodo lebih besar yang sedang asyik berjemur. Dan komodo besar itu diam saja walau kami sibuk foto-foto di sekitarnya.

Sisil, Iin, dan Dhanu bersama maskot #TheKomodos

Sisil, Iin, dan Dhanu bersama maskot #TheKomodos

Saya sendiri ga berani terlalu dekat dengan komodo-komodo itu. I was on my period on that time, dan komodo sangat sensitif dengan bau darah. Terlalu dekat dengan mereka, salah-salah saya dikira mangsanya. Buat cewe-cewe yang mau ke Pulau Komodo dan kebetulan sedang menstruasi, sebaiknya jujur bilang terus terang sama ranger, jangan malu. Kalau ga diizinkan, jangan maksa tetep ikut trekking. Takutnya gara-gara kengeyelan satu orang, seluruh anggota tim jadi terancam bahaya. Kalo dibolehin ikut (kaya saya), stay close to your ranger(s)!

Lagi-lagi harga sewa kapal menunjukkan kastanya. Selesai trekking di Pulau Komodo, snack yang terhidang di kapal kami hanyalah pisang goreng, sementara di kapal si Max, jus segar dan sandwich. But we’re happy, Max sendiri, kami bersepuluh rebutan pisang goreng sambil cela-celaan.

Tujuan selanjutnya; Manta Point! Ini sebenarnya adalah spot diving, sementara ga ada satupun diantara kami yang penyelam, dan trip ini memang bukan diving trip. Trus ngapain kesini? Well, kembali pada fatwa bahwa kami adalah segerombolan anak sok muda yang pengen tahu segalanya. Again, we were lucky! Cuma snorkeling bisa ketemu manta, yeeaaaah!!! Arus kencang bukan halangan untuk ngejar-ngejar manta. Saking hebohnya ngejar, Sisil malah sampai salah (berenang ke arah) kapal.

Capek ngejar-ngejar manta, kami pindah ke snorkeling spot berikutnya; Pulau Sebayur. Di spot ini saya ga turun nyemplung, soalnya perut yang selama 2 hari baik-baik aja dibawa trekking, mendadak berulah, kram. Ya sudah, saya foto-foto narsis aja di atas kapal. Jadi saya ga tahu deh gimana underwater-nya Pulau Sebayur. People said traveling is revealing your limit, I guess having  cramps on my period was mine. Sekitar jam 3 sore, Rainbow berlayar lagi menuju Labuhan Bajo, perjalanan sekitar 2 jam. Sepanjang jalan laut teman-teman banyak yang tidur kelelahan. Saya yang segar bugar karena sudah istirahat sebelumnya, ngobrol dengan salah satu ABK.

Saya di atas Rainbow!

Saya di atas Rainbow!

Kembali saya harus setuju dengan quote dari Aldous Huxley travel is to discover that everyone is wrong about other countries”. Ga usah soal negara lain deh, soal pemikiran sendiri aja ternyata salah, kok! Saya dan teman-teman yang awalnya ga mau nyobain Live On Board, ternyata sekarang malah kepengen lagi!

Share: