Siapa yang udah nonton film Jaws? Rata-rata anak yang lahir tahun 80an pasti udah pernah nonton ya. Film tentang perburuan hiu yang mengganggu liburan umat manusia di suatu pantai. Di film itu, digambarkan tuh betapa kejamnya hiu makan orang.

Jika anda pengikut (follower) akun twitter @r_djangkaru milik Riyanni Djangkaru, pasti sudah tidak asing lagi dengan hashtag #savesharks yang menjadi judul tulisan ini. Hashtag ini mulai sering dikampanye-kan Riyanni di timeline twitter-nya mulai awal tahun 2012.

Lho? Kok kampanye selamatkan hiu? Bukannya hiu itu hewan ganas? Sudah sepantasnya dong dia dihabisi, biar lautan kita aman damai sentosa?

Nah, ini dia pemikiran yang salah selama ini. Orang-orang mungkin udah terlanjur terdoktrin bahwa hiu itu predator, ganas, suka makan orang, dll, dll… Padahal, katanya sih hanya ada 5 kasus unprovoked shark attack terhadap manusia setiap tahunnya, sementara manusia membunuh hiu? 100.000.000 (seratus juta) ekor setiap tahunnya. Jadi, siapa yang lebih kejam?




Hiu memang predator, ganas, tapi hiu juga pilih-pilih! Mereka hanya makan ikan-ikan besar, lumba-lumba, singa laut, kadang makan moluska yang ada di dasar laut, bahkan ada jenis hiu yang hanya makan plankton, yaitu hiu paus (whale shark). Coba baca di sini tentang apa aja yang jadi makanan hiu.

Balik lagi ke kampanye #saveshark tadi, kenapa kampanye ini penting? Karena hiu adalah top predator di ekosistem laut. Hilangnya hiu bisa mengakibatkan hilangnya udang, kepiting, tuna, tongkol, selar, kembung, cumi, dan semua seafood yang lezat-lezat itu!

WhatIsSharkFinning_web

Kok bisa?

Gini logikanya: hiu kan dibunuhin manusia tuh, akibatnya hewan-hewan laut yang biasa dimakan hiu (let’s say: singa laut, barakuda) jadi ga terkontrol jumlahnya, nah karena jumlah singa laut dan barakuda yang berlebihan, ikan-ikan laut yang lebih kecil (tongkol, tuna, dll) boro-boro cukup untuk konsumsi manusia, buat barakuda aja ga cukup! Lama-lama barakudanya makan udang, kepiting. Makin lama makin lama, kepiting pun habis. Barakuda kelaparan, mati juga.

Akhirnya yang tersisa di laut cuma hewan-hewan yang ga bisa di makan; bulu babi, ubur-ubur. Bisa sih dimakan, tapi ya gitu deh, amis dan usaha ngebukanya ga sepadan dengan risiko kena racunnya. Seperti kata pepatah suku Indian; ketika semua ikan di laut habis, kita pada akhirnya tidak bisa makan uang.

Mau ngalamin kaya gini?

Saya ga habis pikir deh, kenapa manusia masih mau makan daging hiu, sup sirip hiu. Jelas-jelas penelitian ilmiah bilang, sirip hiu itu kadar logam berat merkuri-nya 42x di atas ambang batas aman konsumsi. Masuk akal sih, mengingat hiu adalah top predator di lautan, semua kandungan merkuri dari hewan-hewan yang dia makan, ngumpul semua di hiu.

Belum lagi fakta bahwa daging hiu itu pesing bau-nya. Sama seperti keluarga ikan pari/manta, hiu tidak mempunyai sistem pembuangan air kencing, jadi mereka ‘pipis’ lewat kulit. Saat dibunuh, hiu ga sempet membuang urinnya, itulah sebabnya daging hiu pesing.

Saya belum pernah makan daging hiu, tapi dulu saya sering makan ikan pari asap khas Semarang/Jepara. Sama-sama pesing, mungkin rasanya daging hiu ga beda jauh dari pari asap itu kali ya…

Masih banyak ikan lain yang sehat dan layak dikonsumsi, tidak membahayakan ekosistem laut, ngapain sih masih makan hiu? Kalau kita umat manusia menghentikan demand/permintaan akan sirip hiu/daging hiu, dijamin mafia kejam pedagang hiu juga akan berhenti nyuruh nelayan nangkap hiu. Jangan nyalahin nelayan, kalau kita tidak mengedukasi diri sendiri untuk menghentikan shark finning. Nelayan ga cukup cuma dikasih tahu bahwa hiu itu penjaga keseimbangan ekosistem, top predator, bla..bla..bla.. mereka hanya akan bengong. Tapi kalau suatu hari mereka nangkap hiu, dibawa ke pasar trus ga laku, besok pasti mereka akan nangkep ikan yang lain.

Yuk, jadi traveler yang bertanggung jawab. Kita jaga laut dan seluruh isinya, biar cucu kita nanti ga hanya denger cerita kakek neneknya waktu diving pernah ketemu great white shark Raja Ampat, liat tarian lumba-lumba di Teluk Kiluan dan Lovina, liat manta segede karpet terbang di peraiaran TN Komodo, tapi mereka bisa ngalamin sendiri.

Let’s #SaveSharks!

*I’ve been following the hashtag since around March, 2012. Semakin terbuka mata waktu ikut sharing session para pemenang Nescafe Journey 2; Yosefine dan Metta Karania di Divebox, 30 Januari 2013. Dan berjanji ga akan capek untuk ngasih tahu orang fakta-fakta mengenai hiu.

Share: