Saat outing kantor bulan desember 2012, saya dan teman-teman kantor main ke Tanjung Benoa. Niat awalnya sih mau nyobain watersport di sana. Di Tanjung Benoa, tujuan awal tadi akibat bujuk rayu tukang kapal bergeser menjadi sewa perahu glass bottom dan mengunjungi turtle farm.

Saya membayangkan turtle farm ini adalah penangkaran penyu seperti yang pernah saya jumpai di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Tapi ternyata, yang saya jumpai di sana tidak lebih dari suatu tempat penyiksaan kura-kura (dan hewan-hewan lainnya).

Di pintu masuk “farm” tersebut, kami dipaksa untuk membayar sumbangan seikhlasnya, tapi ditentukan nilainya, 5ribu rupiah bagi wisatawan lokal, dan 10ribu rupiah (atau dengan mata uang asing yang senilai dengan 10ribu rupiah). Seorang ibu-ibu berbadan besar dengan muka judes bertugas menagih bayaran tersebut. Jangan coba-coba mengelabuinya, karena ia akan berteriak memanggil anda. Rombongan berjumlah besar pun akan ia hitung satu persatu, dan dengan gesit ia akan mengalikan angka, berapa sumbangan yang harus anda bayarkan.

Siang itu, mungkin ada sekitar 300an turis lokal dan asing di lokasi itu. Bayangkan berapa besar pemasukan yang mereka terima dalam sehari. Tapi jangan bayangkan sumbangan yang anda berikan adalah untuk kenyamanan hewan-hewan yang ada di sana!




Kolam tempat menaruh penyu dewasa maupun anak-anak sangat menyedihkan kondisinya, berair keruh dan dangkal. Belum lagi setiap pengunjung bebas meng-apa-kan saja penyu-penyu tersebut. Diangkat, dibalikkan badannya, diajak berfoto dengan berbagai macam pose, dioper sana-sini untuk diajak berfoto bersama. Jika anda memandang ke mata penyu-penyu itu, terlihat sekali mereka stres. Salah satu penyu di sana, ada yang matanya terluka entah karena apa, didiamkan begitu saja, -nampaknya- tidak diobati.

Melihat kondisi seperti itu, saya hanya bisa bete. Saat teman-teman minta tolong difotoin dan bersorak ‘iiiiih, lucu banget!’, saya bilang “cepetan, jangan lama-lama dikeluarin dari air. Kasihan!”. Ingin rasanya saya menguliahi teman-teman kantor tentang perlindungan hewan langka dan rasa sayang pada sesama makhluk hidup.

Di peternakan itu, ada beberapa hewan lain yang kondisinya pun tidak kalah menyedihkan. Burung elang dengan kandang sempit dan tanpa pakan yang memadai, biawak, beberapa jenis ular yang salah satunya diletakkan di luar kandang, dalam satu kotak, dengan kondisi mulut diselotip erat. Siapa saja bebas memegang, menggendong ular tersebut untuk berfoto bersama.

Keluar dari Moon Cot Sari, sungguh saya merasa tertekan. Belum pernah saya melihat suatu tempat yang separah itu menyiksa hewan. Katanya sih, semua hewan yang ada di Moon Cot Sari ini dilindungi oleh balai konservasi sumber daya alam bali. Kalau memang dilindungi, harusnya semua pengunjung dilarang untuk memegang hewan-hewan yang ada, dong! Kita tahu, penyu hewan yang sangat sensitif. Mau nelor aja, dia ga mau kalau lihat ada seberkas sinar atau suara. Lha ini ditaruh di ‘peternakan’ yang lebih mirip pasar digabung dengan taman kanak-kanak.

Saya berharap para pengelola Moon Cot Sari lebih bijaksana dalam mengelola tempat itu. Memperlakukan hewan-hewan di sana dengan lebih layak. Apalagi jika mereka percaya akan karma, what goes around comes around, rite?

Share: